Popular Posts

Label

Pengikut

Blogger templates

animasi

RSS

Pages

PTK berpikir kreatif

A.                JUDUL PENELITIAN
Penggunaan Media Jaring-Jaring Bangun Ruang Sisi Lengkung untuk Mengembangkan Berpikir Kreatif Matematis pada Mata Pelajaran Matematika.
(Penelitian Tindakan Kelas Pembelajaran Matematika Pada Peserta Didik Kelas V Semester 2 SDN Cilumber Kecamatan Lembang – Kabupaten Bandung Barat Tahun Ajaran 2013/2014).

B.                 BIDANG KAJIAN
Bidang kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai Mengembangkan Berpikir Kreatif Matematis dengan fokus yang berkaitan dengan Penggunaan Media Jaring-Jaring Bangun Ruang Sisi Lengkung pada Mata Pelajaran Matematika Kelas V sekolah dasar.

C.                LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Mata pelajaran matematika di sekolah dasar memuat berbagai aspek keterampilan kognitif, salah satunya adalah mengenai materi geometri. Dijelaskan oleh Budiarto (2000, hlm. 439) bahwa
Tujuan pembelajaran geometri adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, mengembangkan intuisi keruangan, menanamkan pengetahuan untuk menunjang materi yang lain, dan dapat membaca serta menginterpretasikan argumen-argumen matematik.

Namun hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang terjadi di kelas V SDN Cilumber. Penulis melihat kompetensi peserta didik dalam Kompetensi Dasar jaring-jaring bangun ruang. Ternyata mayoritas peserta didik memiliki keterampilan yang rendah dalam membentuk jaring-jaring bangun ruang. Meski sudah dibimbing dalam membuat pola hingga membentuk jaring-jaring, mayoritas peserta didik masih belum mampu menyelesaikan tugas tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik terlalu sering mengikuti sebuah prosedur penyelesaian masalah matematis yang diberikan guru yang mengakibatkan kemampuan peserta didik sulit berkembang.
Ada beberapa faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi, salah satunya adalah faktor guru yang kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam menemukan sendiri penyelesaian masalah suatu soal dan kurangnya media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Melalui media pembelajaran bangun ruang sisi lengkung diharapkan dapat dijadikan salah satu solusi untuk membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya serta memberikan kesempatan yang dominan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam proses pembelajarannya.
Melalui media pembelajaran jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung, peserta didik akan mengkonstruksi komponen-komponen pembentuk bangun ruang. Penggunaan media pembelajaran tersebut secara umum berguna untuk melatih peserta didik agar dapat mengeksplorasi keterampilan berpikir kreatif khususnya dalam mengembangkan jaring-jaring bangun ruang, yang dibelajarkan secara bertahap dan menyenangkan serta memberikan pembelajaran bermakna bagi peserta didik.
Penggunaan media pembelajaran tersebut memiliki penyelesaian yang bersifat terbuka dan memberikan banyak solusi. Pertanyaan  terbuka menyebabkan yang ditanya untuk membuat hipotesis, perkiraan, mengemukakan  pendapat,  menilai  menunjukkan  perasaannya,  dan  menarik kesimpulan  (Ruseffendi,  1991). Pertanyaan  terbuka memberikan  kesempatan  kepada  peserta didik untuk memperoleh  wawasan  baru  (new  insight)  dalam  pengetahuan  mereka  (Hancock, 1995).  Dengan  adanya  pertanyaan  tipe  terbuka guru berpeluang untuk membantu peserta didik dalam memahami  dan  mengelaborasi  ide-ide  matematika  peserta didik sejauh dan sedalam mungkin (Nohda, 2000).
Berpijak pada uraian latar belakang masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam permasalahan, yaitu dengan penelitian yang berjudul “Penggunaan Media Jaring-Jaring Bangun Ruang Sisi Lengkung untuk Mengembangkan Berpikir Kreatif  Matematis pada Mata Pelajaran Matematika Pada Peserta Didik Kelas V Semester 2 SDN Cilumber Kecamatan Lembang – Kabupaten Bandung Barat Tahun Ajaran 2013/2014).
D.                RUMUSAN MASALAH PENELITIAN
Permasalahan di atas dirumuskan ke dalam pertanyaan penelitian, yaitu sebagai berikut:
1.                  Bagaimana perencanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung di Kelas V SDN Cilumber?
2.                  Bagaimana pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung agar dapat mengembangkan berpikir kreatif matematis terhadap peserta didik di Kelas V SDN SDN Cilumber?
3.                  Bagaimana tingkat kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan berpikir kreatif matematis dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung di Kelas V SDN Cilumber?

E.                 TUJUAN PENELITIAN
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.                  Perencanaan pembelajaran perencanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung di Kelas V SDN Cilumber.
2.                  Pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung agar dapat mengembangkan berpikir kreatif matematis terhadap peserta didik di Kelas V SDN Cilumber.
3.                  Tingkat kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan berpikir kreatif matematis dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung di Kelas V SDN Cilumber.

F.                 MANFAAT HASIL PENELITIAN
Manfaat hasil penelitian khususnya untuk perbaikan kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran diuraikan secara jelas. Manfaat penelitian ini mencakup manfaat teoretik dan praktis.
1.                  Teoritis
Secara teoritis pembahasan proposal ini dapat dimanfaatkan sebagai satu solusi untuk mengajarkan matematika kepada peserta didik agar lebih variatif dan pro-aktif.
2.                  Praktis
a.                  Bagi Peserta Didik:
1)                  Mengetahui berbagai macam bentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.
2)                  Memahami cara membentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.
3)                  Menggambarkan pola bentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung hasil buatan sendiri.
4)                  Membentuk sendiri beberapa bentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung sesuai dengan aturan.
b.                  Bagi Guru:
1)                  Memberikan informasi untuk menyelenggarakan pembelajaran aktif dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan.
2)                  Memberi wacana baru tentang pembelajaran aktif melalui penggunaan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.
3)                  Memberikan informasi bahwa dengan adanya pembelajaran yang baik maka dapat mewujudkan peserta didik yang cerdas, kreatif, disiplin dan berprestasi.
c.                   Bagi Sekolah:
1)                  Sebagai informasi untuk memotivasi tenaga kependidikan agar lebih kreatif dalam menyampaikan informasi dalam proses pembelajaran.
2)                  Sebagai tolak ukur peningkatan kualitas sekolah dalam melakukan inovasi pembelajaran matematika di sekolah dasar.
3)                  Meningkatkan pengelolaan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar.
d.                  Bagi Peneliti:
            Diharapkan hasil penelitian ini memberikan ilmu pengetahuan dan gambaran mengenai penggunaan media jaring-jaring bangun ruang untuk penelitian selanjutnya yang digunakan sebagai bahan referensi.

G.                KAJIAN PUSTAKA
1.                  Media Pembelajaran
a.                  Definisi Media
Di dalam pengajaran dikenal beberapa istilah seperti peragaan atau keperagaan. Tetapi dewasa ini istilah tersebut telah dipopulerkan dengan istilah media. Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti ‘perantara atau pengantar’. Dalam bukunya, Rudi Susilana (Kemp,1975), menyebutkan bahwa
Kaitannya bahwa belajar membutuhkan interaksi, hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, artinya di dalamnya terjadi proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau sekelompok orang (penerima pesan).

“Untuk membantu penyampaian pesan diperlukan saluran berupa media pembelajaran. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan” (Sadiman dkk., 1990, hlm. 6; Arsyad, 2005, hlm. 3). Menurut Cepi Riyana (2008, hlm. 7), Secara garis besar “media pembelajaran ialah (a) media pembelajaran merupakan wadah dari pesan, (b) materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, (c) tujuan yang ingin dicapai ialah proses pembelajaran.”
Berbagai batasan tersebut menyiratkan hal yang sama, yakni media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

1)                  Jenis-Jenis Media
Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika pada tingkat sekolah dasar meliputi berbagi macam bentuk. Adapun jenis-jenis dari media adalah sebagai berikut:
(a)                Benda asli yang berada di lingkungan peserta didik
(b)               Papan planel
(c)                Lambang bilangan
(d)               Dekak-dekak
(e)                Model bangun datar
(f)                Model bangun ruang
(g)               Papan berpaku

Menurut Wina Sanjaya (2006, hlm. 171), menegaskan bahwa “media yang digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran.”
Agar penulisan proposal penelitian ini lebih terarah, selanjutnya peneliti akan membatasi tentang media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.

2)                  Pentingnya Penggunaan Media dalam Mata Pelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Media matematika dapat diartikan sebagai suatu perangkat benda konkrit yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika. Dengan media hal-hal yang abstrak itu dapat disajikan dalam bentuk model. Model berupa benda konkrit yang dapat dilihat, dipegang diputar-balikkan sehingga mudah dipahami.
NCTM (2000) telah menentukan 5 standar isi dalam standar matematika, yaitu bilangan dan operasinya, pemecahan masalah, geometri, pengukuran, dan peluang dan analisis data. Dalam geometri terdapat unsur penggunaan visualisasi, penalaran spasial dan pemodelan.  Dari pernyataan ini, jelas bahwa matematika penuh dengan konsep yang abstrak. Oleh karenanya, harus ada perantara dalam menyampaikan informasi matematika kepada peserta didik di tingkat sekolah dasar. Terdapat alasan mendasar mengapa media dalam pembelajaran matematika di SD /MI sangat dibutuhkan, seperti:
(a)                Peserta didik pada usia anak SD/MI, menurut Piaget, masih pada tahap operasi konkrit, yang belum bisa menangkap informasi-informasi yang sifatnya abstrak. Pada hal matematika adalah pengetahuan yang bersifat abstrak. Jadi matematika hanya akan dapat dipahami dengan baik oleh peserta didik SD/MI jika matematika disajikan dengan menggunakan benda-benda konkrit.
(b)               Menurut teori dari Brunner, anak akan belajar dengan baik jika melalui 3 tahap, yakni Tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Tahap enaktif  merupakan tahap pengalaman langsung dimana anak berhubungan dengan benda –benda nyata/sesungguhnya. Tahap ikonik berkaitan dengan gambar,  lukisan, foto atau film, sedangkan tahap simbolik merupakan tahap pengalaman abstrak. Jadi pada tahap enaktif  peserta didik harus menggunakan benda nyata dalam memulai belajar matematika. Benda yang diangap kongkrit dalam matematika adalah media tersebut. 

3)                  Syarat Media Pembelajaran yang Baik dalam Mata Pelajaran Matematika
Menurut E.T Rusefensi “beberapa persyaratan media antara lain: 1) Tahan lama, 2) Bentuk dan warnanya menarik, 3)  Sederhana dan mudah dikelola, 4) Ukurannya sesuai, 5)  Dapat menyajikan konsep matematika baik dalam, bentuk real, gambar, atau diagram, 6)  Sesuai dengan konsep matematika, 7)  Dapat memperjelas konsep matematika, 8)  Peragaan itu supaya menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berpikir abstrak bagi peserta didik, 9) Menjadikan peserta didik belajar aktif dan mandiri dengan memanipulasi media, 10) Bila mungkin media tersebut bisa berfaedah lipat (banyak).”

Kriteria menggunakan media sangat bergantung pada:
(a)               Tujuan (obyektif)
Pemilihan kriteria media yang tepat dapat mempengaruhi tujuan pengajaran yang akan dicapai apakah media tersebut mampu meningkatkan domain kognitif, psikomotor serta afektif  yang merupakan tujuan dari sebuah pembelajaran.
(b)               Materi Pelajaran
Media biasanya dipakai untuk membantu peserta didik dalam memahami sebuah konsep dasar dalam materi pembelajaran matematika sehingga memudahkan peserta didik dalam pemahaman materi dalam ruang lingkup dan kesukaran yang lebih tinggi. Peragaan untuk konsep dasar digunakan untuk mempermudah konsep selanjutnya.
(c)                Strategi Belajar Mengajar
Dengan menggunakan media maka akan mempermudah guru di dalam menerapkan strategi di dalam proses pembelajaran. Pengunaan media merupakan strategi pembelajaran dalam metode penemuan ataupun permainan.
(d)               Kondisi
Media membantu guru pada kondisi-kondisi tertentu. Misalnya saja saat peserta didik baru mengetahui konsep baru, maka media akan menjadi alternatif utama untuk memberitahukan kepada peserta didik bentuk dari konsep tersebut.
(e)                Peserta didik
Pemilihan media disesuaikan dengan apa yang disukai oleh peserta didik. Misalnya saja media yang berupa permainan namun hal tersebut tentunya tidak lepas dari tujuan pembelajaran.


2.                  Kemampuan Berpikir Kreatif
Menurut Robbins (1996, hlm. 102) bahwa “kemampuan adalah kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. Selanjutnya totalitas kemampuan dari seseorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua perangkat faktor, yakni kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan untuk menjalankan kegiatan mental. Kemampuan fisik adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan dan bakat-bakat sejenis.”
Martin (2009), memandang bahwa “kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide atau cara baru dalam menghasilkan suatu produk. Pada umumnya, berpikir kreatif dipicu oleh masalah-masalah yang menantang”. Balka dan Torrance (dalam Silver, 1997) mengemukakan bahwa “untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif terdapat empat aspek kemampuan berpikir kreatif matematis yang dapat diukur yaitu kelancaran, keluwesan, kebaruan, dan keterincian.”

3.                  Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Heruman (2008) menyatakan bahwa “dalam pembelajaran matematika sekolah dasar, diharapkan terjadi reinvention (penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian  secara informal dalam pembelajaran di kelas.” Selanjutnya Heruman menambahkan bahwa “dalam pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman belajar peserta didik sebelumnya dengan konsep yang akan diajarkan. Sehingga diharapkan pembelajaran yang terjadi merupakan pembelajaran menjadi lebih bermakna (meaningful), peserta didik tidak hanya belajar untuk mengetahui sesuatu (learning to know about), tetapi juga belajar melakukan (learning to do), belajar menjiwai (learning to be), dan belajar bagaimana seharusnya belajar (learning to learn), serta bagaimana bersosialisasi dengan sesama teman (learning to live together).”
Peserta didik sekolah dasar berada pada umur  yang berkisar antara usia 7 hingga 12 tahun, pada tahap ini peserta didik masih berpikir pada fase operasional konkret. Kemampuan yang tampak dalam fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek  yang bersifat konkret (Heruman, 2008). Peserta didik di sekolah dasar masih terikat dengan objek yang ditangkap dengan panca indra, sehingga diharapkan dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak, peserta didik lebih banyak menggunakan media sebagai alat bantu dalam memahami konsep abstrak. Karena dengan penggunaan media dapat memperjelas apa yang disampaikan oleh guru, sehingga peserta didik lebih mudah memahaminya. Pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak terlepas dari dua hal yaitu hakikat matematika itu sendiri dan hakikat dari anak didik di sekolah dasar. Suwangsih dan Tiurlina (2006) menyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran matematika sekolah dasar yaitu:
a.                   Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral
Pendekatan spiral dalam pembelajaran matematika merupakan pendekatan di mana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu mengaitkan atau menghubungkan dengan topik sebelumnya, topik sebelumnya merupakan prasyarat untuk topik baru, topik baru merupakan pendalaman dan perluasan dari topik sebelumnya. Konsep  yang diberikan dimulai dengan benda-benda konkret kemudian konsep itu diajarkan kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan menggunakan notasi yang lebih umum digunakan dalam matematika.
b.                  Pembelajaran matematika bertahap
Materi pelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit, selain pembelajaran matematika dimulai dari yang konkret, ke semi-konkret, dan akhirnya kepada konsep abstrak.
c.                   Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan peserta didik maka pada pembelajaran matematika di sekolah dasar digunakan pendekatan induktif.

d.                  Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya. Meskipun di sekolah dasar pembelajaran matematika dilakukan dengan cara induktif tetapi pada jenjang selanjutnya generalisasi suatu konsep harus secara deduktif.
e.                   Pembelajaran matematika hendaknya bermakna
Pembelajaran matematika secara bermakna merupakan cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian dari pada hafalan. Dalam belajar bermakna aturan-aturan, dalil-dalil tidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya aturan-aturan, dalil-dalil ditemukan oleh peserta didik melalui contoh-contoh secara induktif di sekolah dasar, kemudian dibuktikan secara deduktif pada jenjang selanjutnya.
Tentunya dalam mengajarkan matematika di sekolah dasar tidak semudah dengan apa yang kita bayangkan, selain peserta didik yang pola pikirnya masih pada fase  operasional konkret, juga kemampuan peserta didik yang sangat beragam. Hudojo (2005) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengajarkan matematika di tingkat sekolah dasar, yaitu sebagai berikut:
a.                  Peserta didik
Mengajar matematika untuk sebagian besar kelompok peserta didik berkemampuan sedang akan berbeda dengan mengajarkan matematika kepada sekelompok kecil anak-anak cerdas, sekelompok besar peserta didik tersebut perlu diperkenalkan matematika sebagai suatu aktivitas manusia, dekat dengan penggunaan sehari-hari yang diatur secara kreatif (oleh guru) agar kegiatan tersebut disesuaikan dengan topik matematika. Untuk peserta didik yang cerdas, mereka akan mudah mengasimilasi dan mengakomodasi teori matematika dan masalah-masalah yang tertera dalam bahan ajar.
b.                  Guru
            Ada dua orientasi guru dalam mengajar matematika di sekolah dasar sebagai berikut:
1)                  Keinginan guru mengarah ke kelas sebagai keseluruhan dan sedikit perhatian individu peserta didik baik reaksinya maupun kepribadiannya. Biasanya mereka membatasi dirinya ke materi matematika yang distrukturkan ke logika matematika. Mengajar matematika berarti mentranslasikan sedekat-dekatnya ke teori matematika yang sama sekali mengabaikan kesulitan yang dihadapi peserta didik.
2)                  Guru tidak terikat ketat dengan pola bahan ajar dalam mengajar matematika. Ia mengajar matematika dengan melihat lingkungan sekitar bersama-sama dengan peserta didik untuk meng-eksplor lingkungan tersebut. Kegiatan matematika diatur sedekat-dekatnya dengan lingkungan peserta didik sehingga peserta didik terbiasa terhadap konsep-konsep matematika. 
c.                   Alat Bantu
            Mengajar matematika di lingkungan sekolah dasar, harus didahului dengan benda-benda konkret. Secara bertahap dengan bekerja dan mengobservasi, peserta didik  dengan sadar menginterpretasikan pola matematika yang terdapat dalam benda konkret tersebut. Model konsep sebaiknya dibentuk oleh peserta didik sendiri. peserta didik menjadi   “penemu” kecil. Peserta didik akan merasa  senang bila mereka “menemukan”.
d.                  Proses Belajar
            Guru seyogyanya menyusun materi matematika sedemikian, sehingga peserta didik dapat menjadi lebih aktif sesuai dengan tahap perkembangan mental, agar peserta didik mempunyai kesempatan maksimum untuk belajar.

e.                   Matematika yang Disajikan
            Matematika yang disajikan seyogyanya dalam bentuk bervariasi. Cara menyajikannya seyogyanya dilandasi latar belakang yang realistik dari peserta didik. Dengan demikian aktivitas matematika menjadi sesuai dengan lingkungan para peserta didik.
f.                   Pengorganisasian Kelas
            Matematika seyogyanya disajikan secara terorganisasi, baik antara aktivitas belajarnya maupun didaktiknya. Bentuk pengorganisasian yang dimaksud antara lain adalah laboratorium matematika, kelompok peserta didik yang heterogen kemampuannya, instruksi langsung, diskusi kelas dan pengajaran individu. Semua itu dapat dipilih bergantung kepada situasi peserta didik yang pada dasarnya agar peserta didik belajar matematika.
            Dengan memperhatikan keenam hal di atas, sangat diharapkan pembelajaran matematika menyenangkan bagi peserta didik dan pembelajaran matematika menjadi efektif sehingga peserta didik tidak hanya mampu menghafal konsep-konsep matematika, tetapi juga harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, jadi sangat diharapkan dalam proses pembelajaran yang dipraktekkan guru juga melibatkan dan mengaktifkan peserta didik dalam proses menemukan konsep-konsep matematika. Sehingga pembelajaran matematika di sekolah dasar mampu mengembangkan kompetensi-kompetensi  matematika seperti yang  terdapat dalam kurikulum matematika. 

4.                  Jaring-Jaring Bangun Ruang
a.                  Definisi Jaring-Jaring Bangun Ruang
            Menurut Suharjana (2007) “bangun ruang adalah bagian yang dibatasi oleh himpunan titik-titik yang terdapat pada seluruh permukaan bangun tersebut. Permukaan bangun itu disebut sisi. Pertemuan antara garis-garis pada sisi setiap bangun ruang disebut sebagai rusuk. Bangun ruang terdiri dari beberapa jaring-jaring. Jaring-jaring bangun ruang adalah pembelahan sebuah bangun yang tidak terpisah antara bidang, sehingga jika digabungkan akan menjadi sebuah bangun ruang tertentu.”
            Dalam matematika bangun ruang digolongkan atas dua kelompok besar sesuai dengan bidang atau sisi penyusunnya, yaitu bangun ruang sisi tegak dan bangun ruang sisi lengkung.
1)                  Bangun ruang sisi tegak merupakan bangun ruang yang sisi-sisi penyusunnya merupakan sisi dengan bidang datar, contohnya seperti kubus, balok, prisma, dan limas.
2)                  Bangun ruang sisi lengkung merupakan bangun ruang yang memiliki sedikitnya satu sisi penyusunnya merupakan sisi dengan bidang lengkung, contohnya tabung dan kerucut.

b.                  Bangun Ruang Sisi Tegak
1)                  Kubus
Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi yang kongruen. Kubus disebut juga bidang enam beraturan atau heksaeder, kubus diberi nama menurut titik sudutnya.
2)                  Balok
Balok adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah, dimana dua bidang yang berhadapan saling kongruen. Balok disebut juga prisma persegi panjang.
3)                  Prisma
Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua buah bidang sejajar serta beebrapa bidang yang saling berpotongan menurut garis-garis yang sejajar. Dua bidang sejajar tersebut dinamakan bidang alas dan bidang atas, bidang-bidang lainnya disebut dengan bidang tegak, sedangkan jarak antara kedua bidang tersebut disebut tinggi prisma.
Prisma yang rusuk tegaknya tegak lurus pada bidang alasnya disebut prisma tegak. Prisma juga memiliki beragam bentuk tidak semuanya memiliki bidang sisi tegak, melainkan ada juga yang memiliki rusuk tegaknya tidak tegak lurus pada bidang alas.
4)                  Limas
Limas adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh sebuah segi – n (yang disebut dengan bidang alas) dan beberapa segitiga (yang disbeut dengan sisi tegak) yang memiliki satu titik sudut persekutuan (yang disebut dengan puncak). Rusuk-rusuk yang melalui puncak disebut dengan rusuk tegak.

c.                   Bangun Ruang Sisi Lengkung
1)                  Tabung
Tabung merupakan bangun ruang dengan alas dan tutupnya berbentuk lingkaran. Tabung memliki tiga buah sisi yaitu sisi alas, sisi atas, dan selimut tabung. Tabung tidak mempunyai titik sudut, bidang alas dan bidang atas berbentuk lingkaran dengan ukuran sama.  Jarak antara bidang alas dan bidang atas disebut tinggi tabung. Untuk jaring-jaring tabung sendiri terbentuk apabila masing-masing sisinya dibuka sesuai dengan rusuknya (Sumanto, dkk. 2008).
2)                  Kerucut
Merupakan bangun ruang dengan alas berbentuk lingkaran yang memiliki jari-jari tertentu. Bentuk selimut kerucut mengerucut ke atas. Kerucut memiliki sebuah titik sudut yang merupakan titik puncak kerucut tersebut. Jarak antara titik puncak dengan alas kerucut disebut sebagai tinggi kerucut (Sumanto,dkk:2008). Jaring-jaring kerucut merupakan dua buah sisi yang jika disatukan antar rusuknya akan membentuk bangun ruang kerucut.

d.                  Penerapan Media Jaring-Jaring Bangun Ruang Sisi Lengkung
Sebaiknya peserta didik diberi kesempatan untuk berkreasi dan berinteraksi di lingkungan belajarnya. Dienes (dalam Ismail, 1998, hlm. 10), bahwasannya “matematika sebagai sebuah ilmu kreatif, sebaiknya dipelajari dan diajarkan sebagai ilmu seni.“
Berangkat dari pernyataan di atas, langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung adalah mengaktifkan berpikir kreatif peserta didik dengan memberikan stimulus untuk mendapatkan pola tersendiri. Agar peserta didik lebih mudah memahami apa yang harus dilakukannya, maka guru memberikan contoh bagaimana membuat jaring-jaring bangun ruang sisi tegak. Dimana pemberian contohnya pun masih memberikan contoh bentuk jaring-jaring yang biasa ditemukan. Hal yang ditekankan adalah peserta didik memahami proses pencari-temuan jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung dengan hasil kreasi sendiri.

H.                PENELITIAN TERDAHULU
Pada siklus III terjadi peningkatan nilai untuk evaluasi dari siklus II ke siklus III yaitu 7,9 menjadi 8,4 begitupula dengan tingkat kreativitas siswa. Siswa memiliki kreatifitas tinggi mengalami peningkatan 37,5%, siswa yang memilki kreativitas sedang tidak mengalami perubahan, dan bagi siswa yang memilki kreativitas rendah mengalami penurunan sekitar 37,5%. Ini menunjukan bahwa adanya peningkatan kreativitas dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan Open-Ended.
Pada siklus III menunjukan sikap dan aktivitas yang baik, siswa awalnya pendiam. Pada siklus III ini mereka mampu merespon dengan cepat dan tepat. Mengemukkan gagasan dengan cepat serta mampu menyelesaikan masalah yang diberikan dengan baik.
Peningkatan berpikir kreatif peserta didik sudah banyak yang meneliti, salah satunya adalah Herlina Najwa Amber Jurusan Pedagogik Program Studi PGSD yang telah menggunakan model pembelajaran dengan judul “ Pembelajaran Matematika Open - Ended untuk meningkatkan kemampuan berpikir  kreatif siswa SD” pada kelas III SDN Bukanagara Kecamatan Lembang - Kabupaen Bandung Barat Tahun Ajaran 2009/2010. Penelitian tersebut menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Open-Ended  untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dengan pokok bahan mencari keliling dan luas persegi dan persegi panjang. Selain penelitian Herlina Najwa Amber (2010), di bawah ini juga terdapat penelitian-penelitian terkait meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, seperti:
a.       Penelitian Widia Nurhidayati (2010) dengan judul penelitian yaitu Implementasi Model LAPS (Logan Avenue Problem Solving)-Heuristik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa mengungkapakan bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang pembeajarannya melalui model Laps lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya melalui model pembelajaran konvensional. Selain itu terjadi peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis sisa pada ketiga aspek fluency, feksibilitas dan orisinaitas relatif sama.
b.      Penelitian Risa Aisyah (2013) dengan judul peneltian yaitu peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa SMP melalui pembelajaran matematika dengan stretegi REACT mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan strategi reach lebih tinggi secara signifikakan.
c.       Penelitian Heti Rohyati (2012) dengan judul yaitu penerapan pendekatan model Eliciting Activities untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa SMP mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa yang mendapatkan pembelajaran matematika dengan strategi reach lebih tinggi secara signifikakan.
d.      Penelitian Burhanudin (2011) dengan judul yaitu penerapan pendekatan open-ended dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan kompetensi Strategis Siswa SMP mengungkapkan bahwa pendekatan open-ended dapat meningkat kemampuan strategis siswa.
e.       Penelitian R. Izdni Zhahrina Permana (2010) dengan judul yaitu implementasi pendekatan open-ended untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP kelas VII mengungkapkan bahwa pendekatan open-ended dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP kelas VII dibanding dengan menggunakan pendekatan konvensional.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, penggunaan media sangat mempengaruhi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik.
I.                   KERANGKA BERPIKIR
Menurut Sugiyono (2012, hlm. 91) yang menyatakan bahwa “kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti.”
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah adanya keterkaitan antara penggunaan media pembelajaran jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung dengan peningkatan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam membuat jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung. Untuk lebih mempermudah pemahaman dalam kerangka pikir, dapat digambarkan dalam skema berikut:
                

Membuat berbagai bentuk jaring-jaring sisi lengkung
 


Gambar 1: Kerangka Berpikir Penelitian.

J.                  FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini difokuskan pada penggunaan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung untuk mengembangkan berpikir kreatif matematis pada mata pelajaran matematika siswa kelas V semester 2 di SDN Cilumber Kecamatan Lembang -Kabupaten Bandung Barat. Untuk memfokuskan penelitian dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut:
1.                  Media Pembelajaran
Alasan perlu adanya media pembelajaran adalah “untuk membantu penyampaian pesan diperlukan saluran berupa media pembelajaran. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan” (Sadiman dkk., 1990, hlm. 6; Arsyad, 2005, hlm. 3).
Dari pernyataan di atas, seharusnya pendidik sadar keharusan penggunaan atau bahkan pembuatan media pembelajaran untuk mempersiapkan mengelola proses pembelajaran untuk peserta didiknya. Khusus di pembelajaran matematika yang syarat akan konsep abstrak, wajib hukumnya bagi pendidik memfasilitasi itu semua, jika tidak ingin membuat peserta didik merasa kesulitan memahami konsep matematika.
2.                  Berpikir kreatif
Kemampuan berpikir kretaif merupakan suatu kemampuan berpikir tingkat tinggi dimana kemampuan tersebut menghasilkan ide atau cara baru dalam menghasilkan suatu produk. Kemampuan tersebut meliputi aspek kelancaran, keluwesan, kebaruan, dan keterincian. Keempat aspek ini dapat dilihat selama peserta didik sehingga pada tujuan akhirnya peserta didik mampu membentuk sendiri beberapa bentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.


3.                  Jaring-Jaring Bangun Ruang Sisi Lengkung
Jaring-jaring bangun ruang adalah pembelahan sebuah bangun yang tidak terpisah antara bidang, sehingga jika digabungkan akan menjadi sebuah bangun ruang tertentu. Dalam hal ini peserta didik diberikan kebebasan dalam membentuk jaring-jaring bangun ruang yang kemudian peneliti jabarkan dalam bentuk deskriftif ilmiah dan angka atau nilai yang mempresentatifkan kemampuan berpikir kreatif setiap peserta didik pada pembelajaran atau evaluasi pembelajaran.
K.                HIPOTESIS TINDAKAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, peneliti berhipotesa bahwa “melalui penggunaan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan berpikir kreatif matematis peserta didik di kelas V SDN Cilumber Kecamatan Lembang -  Kabupaten Bandung Barat.”
L.                 METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN
1.                  Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan oleh peneliti secara langsung. Penelitian ini berbasis kolaboratif, sehingga dalam pelaksanaannya penelitian dilakukan melalui kerja sama dengan guru wali kelas V SDN Cilumber yang selalu berupaya untuk memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang efektif, sehingga dimungkinkan adanya tindakan yang berulang dengan revisi untuk mengembangkan berpikir kreatif peserta didik. Peneliti berperan sebagai guru untuk melakukan tindakan pembelajaran sesuai perencanaan tindakan yang dibuat.
2.                  Model Penelitian
Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model spiral dari Kemiss dan Taggart (1988). Yaitu suatu siklus terdiri atas empat komponen, keempat komponen tersebut, meliputi: 1) perencanaan, 2) aksi/tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi. Sesudah suatu siklus selesai di implementasikan, khususnya sesudah adanya refleksi, kemudian diikuti dengan adanya perencanaan ulang yang dilaksanakan dalam bentuk siklus tersendiri.








Gambar 2: Model Spiral dari Kemiss dan Taggart (1988).
Berdasarkan model Kemmis dan Taggart maka penelitian ini dilaksanakan yang diawali dengan refleksi awal dengan melakukan tes pra-siklus, perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Penjelasan dari langkah-langkah yang ditempuh dari setiap siklus pada model Kemmis dan Taggart ini adalah:
a.                  Perencanaan (Planning)
Dalam pelaksanaan tindakan kelas yang dilakukan pertama kali adalah membuat perencanaan tindakan. Rencana tindakan ini dilakukan dengan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan. Hal-hal yang direncanakan terkait analisis materi pembelajaran, pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, media pembelajaran, bahan ajar dan penilaian proses serta hasil pembelajaran.
b.                  Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap ini, rencana yang telah disusun diujikan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dibuat yaitu langkah-langkah pembelajaran menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung untuk meningkatkan berpikir kreatif peserta didik.
c.                   Observasi (Observasing)
Dalam tahap ini, peneliti melakukan observasi terhadap tindakan yang sedang dan telah dilakukan. Observasi dilakukan untuk mengetahui kesesuaian antar perencanaan yang sudah disusun dengan tindakan yang dilakukan pada saat di lapangan. Selain itu, untuk mengetahui sejauhmana pelaksanaan tindakan yang sedang berlangsung terhadap proses dan hasil pembelajaran (meningkatnya berpikir kreatif). Hal ini bertujuan agar terjadi perubahan terhadap hasil yang diharapkan.
d.                  Refleksi (Reflecting)
Refleksi mencakup kegiatan analisis, interpretasi, dan evaluasi yang diperoleh saat melakukan kegiatan observasi. Data yang terkumpul saat observasi dianalisis dan diinterpretasi untuk mencari penyelesaian yang efekif. Hasil refleksi ini kemudian dibuat perencanaan tindakan selanjutnya.
3.                  Setting Penelitian dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Cilumber Kecamatan Lembang -  Kabupaten Bandung Barat semester 2 tahun ajaran 2013/2014 dengan banyaknya peserta didik yaitu 44 peserta didik.
 
4.                  Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah adanya peningkatan berpikir kreatif peserta didik setelah menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung pada subjek penelitian yaitu peserta didik V SDN Cilumber Kecamatan Lembang -  Kabupaten Bandung Barat semester 2 tahun ajaran 2013/2014 dengan banyaknya peserta didik 44 orang. Diharapkan dengan menggunakan media tersebut dapat meningkatkan proses berpikir peserta didik dan menjadikan pelajaran matematika sebagai mata pelajaran yang menyenangkan.

5.                  Rencana Tindakan dan Prosedur Penelitian
a.                  Refleksi awal
Sebelum dilakukannya tindakan, peneliti mengamati proses pembelajaran di dalam kelas. Dari hasil pengamatan peneliti mendiagnosa bahwa peserta didik kelas V SDN Cilumber belum memiliki keterampilan berpikir kreatif dalam membuat pola jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung karena kurangnya media yang digunakan oleh guru dan hanya mengikuti bentuk jaring-jaring bangun ruang yang ada di bahan ajar saat proses pembelajaran di kelas.
1)                  Fact finding analysis
Dari hasil kerja peserta didik yang tidak memahami konsep dalam  membentuk jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung. Penyebab utamanya karena kurangnya media yang digunakan oleh guru dan hanya mengikuti bentuk jaring-jaring bangun ruang yang ada di bahan ajar.
2)                  Perencanaan tindakan
Atas dasar masalah dan penyebabnya, dalam pelaksanaan tindakan akan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung. Sebelum melakukan tindakan dengan menerapkan media, peneliti menyusun rancangan program tindakan pembelajaran konsep jaring-jaring bangun ruang. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam perencanaan ini adalah:
(a)                Menganalisis Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaram matematika kelas 5 semester 2 yang akan dicapai dan menentukan Indikator Capaian Kompetensi (ICK).
(b)               Analisis materi pelajaran, peneliti menyiapkan materi yang sesuai dengan SK dan KD.
(c)                Mendiskusikan dengan guru kelas mengenai langkah-langkah, strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran.
(d)               Menyesuaikan rancangan penelitian dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.
(e)                Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
(f)                Menyiapkan kebutuhan – kebutuhan pembelajaran (media, dan sumber belajar) khususnya media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.
(g)               Menyiapkan lembar evaluasi dan instrumen lain serta penilaian mengenai kemampuan memahami konsep membentuk jaring-jaring bangun ruang.
(h)               Menyusun alat observasi yang digunakan untuk pengamatan terhadap guru dan peserta didik.
(i)                 Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas peserta didik.
(j)                 Menyiapkan lembar pengamatan aktivitas guru.
(k)               Menyiapkan alat-alat untuk dokumentasi.

3)                  Pelaksanaan tindakan
Pada tahap ini, pelaksanaan tindakan dilakukan langsung oleh peneliti sendiri yang juga untuk menerapkan tindakan dalam pembelajaran di kelas. Wali kelas V akan berperan sebagai observer, yang mengamati proses pembelajaran konsep membentuk jaring-jaring bangun ruang.
Pelaksanaan tindakan dengan menerapkan media jaring-jaring bangun ruang pada konsep membentuk jaring-jaring bangun ruang direncanakan dalam 3 siklus. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian rencana pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran yang terjadi.
4)                  Refleksi
Refleksi ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan dan memperbaiki kekurangan-kekurangan pada pembelajaran yang telah dilakukan untuk diperbaiki pada siklus selanjutnya.
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam 3 siklus, setiap siklus terdiri satu kali pertemuan. Sebelum melaksanakan siklus I, peneliti mengadakan tes pra-siklus untuk mengetahui kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam membuat jaring-jaring bangun ruang. Pada setiap akhir siklus diadakan portofolio dan tes formatif untuk mengetahui peningkatan perkembangan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Dalam menerapkan media pada setiap siklusnya dilakukan sesuai dengan kemajuan atau perubahan yang telah dicapai pada siklus sebelumnya, akan tetapi apabila setelah pelaksanaan kedua siklus, ternyata tujuan  penelitian yang akan diteliti belum mencapai pada sasarannya maka akan dilanjutkan ke siklus berikutnya.  Prosedur untuk tiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.                  Pelaksanaan Tindakan
Siklus I
a.                   Perencanaan
1)                  Guru menentukan materi pokok yang diajarkan tentang konsep bangun ruang dan jaring-jaringnya.
2)                  Merancang pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk materi pengenalan konsep bangun ruang beserta jaring-jaringnya.
3)                  Merancang media yang akan digunakan dalam pembelajaran, yaitu dengan media berbagai benda yang menyerupai bangun ruang sisi tegak dan sisi lengkung.
4)                  Menyiapkan instrument observasi.
5)                  Menyusun tes, yaitu tes tertulis dan portofolio.

b.                  Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan ini peneliti melakukan apa yang sudah dibuat pada perencanaan. Pelaksanaan ini berlangsung di kelas dengan menggunakan media yang telah disiapkan untuk proses belajar mengajar di kelas.
c.                   Observasi
Pengamatan dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran, adapun hal yang perlu dilihat atau diamati pada pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut : penampilan mengajar, keaktifan peserta didik dalam penggunan media, kondisi kelas dan peserta didik, situasi pada saat pembelajaran serta pemanfaatan media yang sudah disiapkan.
d.                  Refleksi
Pada tahap refleksi ini berfungsi untuk mendiskusikan hal-hal apa saja yang terjadi pada tahap pelaksanaan yang semua telah ditulis pada tahap observasi. Membahas mengenai penampilan belajar maupun pemanfaatan media. Semua hal yang telah ditemukan pada saat pelaksanaan semuanya dibahas pada tahap refleksi ini, agar kekurangan atau kelemahan yang ada pada pelaksnaan siklus I dapat diperbaiki dan dilaksanakan lagi untuk siklus berikutnya yaitu siklus II.
Siklus I dianggap berhasil apabila peserta didik dapat: memberi nama bangun ruang sisi lengkung dengan tepat, menemu-tunjukkan benda-benda disekitar yang menyerupai bangun ruang sisi lengkung yang diajarkan, menggunakan media bangun ruang untuk menunjukkan jaring-jaring setiap bangun ruang, menggambarkan satu contoh bentuk jaring-jaring yang berbeda dari salah satu bangun ruang yang diajarkan, mengerjakan soal. Hasil post tes peserta didik minimal sesuai KKM Matematika yang telah ditentukan oleh pihak sekolah.
Siklus II
a.                   Perencanaan
Pada tahap pembuatan perencanaan siklus II ini berdasarkan dari hasil refleksi yang telah dilakukan pada siklus I.
b.                  Pelaksanaan
Pada perencanaan siklus II guru melaksanakan perencanaan yang telah dibuat berdasarkan hasil refleksi siklus I, guru tetap melaksanakan pembelajaran dengan media jaring-jaring bangun ruang yang sudah ada (bahan karton dan jaring-jaring bangun ruang terbuat dari kayu).
c.                   Observasi
Pengamatan dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran sama halnya saat di siklus I.
d.                  Refleksi
Pada tahap refleksi ini masih sama dengan siklus I yaitu diskusi mengenai kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya. Tetap membahas apa saja yang masih kurang dalam proses pembelajaran.
Siklus II dianggap berhasil apabila peserta didik dapat:  menggambarkan satu contoh bentuk jaring-jaring yang berbeda dari semua bangun ruang sisi lengkung yang diajarkan, menyusun (menggunting) kertas yang sudah terbentuk polanya untuk membuat jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung, mengerjakan soal. Hasil post tes peserta didik minimal sesuai KKM Matematika yang telah ditentukan oleh pihak sekolah.
Siklus III
a.                   Perencanaan
Pembuatan perencanaan yang dibuat pada siklus ini berdasarkan hasil refleksi yang ada pada siklus sebelumnya.
b.                  Pelaksanaan
Guru masih melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung.
c.                   Observasi
Pengamatan dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran sama halnya saat di siklus I.


d.                  Kesimpulan
Pada tahap ini peneliti membuat sebuah kesimpulan mengenai pembelajaran selama 3 siklus yang telah dilaksanakan, kesimpulan mengenai pembelajaran dengan menggunakan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik.
6.                  Data dan Cara Pengambilannya
Sebagai upaya untuk mendapatkan data dan informasi yang lengkap mengenai hal-hal yang ingin dikaji melalui penelitian ini, baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Maka dibuat seperangkat instrumen penelitian. Adapun instrumen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.                  Instrumen Penelitian
Untuk dapat memperoleh kebenaran yang objektif dalam pengumpulan data, maka diperlukan instrumen yang tepat agar masalah yang diteliti dapat terefleksikan dengan baik. Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan ada 2 macam, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.  Data kuantitatif berupa nilai hasil tes uraian. Sedangkan data kualitatif berupa informasi mengenai penggunaan media dalam pembelajaran dalam upaya meningkatkan berpikir kreatif. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes dan instrumen non tes. Adapun instrumen yang digunakan adalah:
a.                  Instrumen Pembelajaran
1)                  Rencana  Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dibuat per siklus yang memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, metode pembelajaran, evaluasi, dan skenario pembelajaran.


2)                  Lembar Kerja Peserta didik
Lembar kerja peserta didik memuat masalah atau pertanyaan – pertanyaan yang harus diselesaikan dalam proses pembelajaran. Baik itu tugas individu maupun kelompok. Untuk menyesuaikan dengan apa yang akan diteliti, maka peneliti akan membuat instrumen tersebut yang mengadopsi pengembangan instrumen dari Torrance yaitu Torrance Tests of Creative Thinking (TTCT).
Adapun metode pengukuran kemampuan berpikir kreatif matematis yang digunakan Torrance sering disebut tugas problem posing atau problem finding atau production divergen. Tes ini mengukur tiga aspek kemampuan berpikir kreatif matematis, yaitu kelancaran, keluwesan, dan kebaruan Balka dan Torrance (Silver, 1997). Aspek kelancaran meliputi kemampuan (1) menyelesaikan masalah dan  memberikan banyak jawaban terhadap masalah tersebut; atau (2) memberikan banyak contoh atau pernyataan terkait konsep atau situasi matematis tertentu. Aspek keluwesan meliputi kemampuan (1) menggunakan beragam strategi penyelesaian masalah; atau (2) memberikan beragam contoh atau pernyataan terkait konsep atau situasi matematis tertentu. Aspek kebaruan meliputi kemampuan (1) menggunakan strategi yang bersifat baru, unik, atau tidak biasa untuk menyelesaikan masalah; atau (2) memberikan contoh atau pernyataan yang bersifat baru, unik, atau tidak biasa. Aspek keterincian meliputi kemampuan menjelaskan secara terperinci, runtut, dan koheren terhadap prosedur matematis, jawaban, atau situasi matematis tertentu. Penjelasan ini menggunakan konsep, representasi, istilah, atau notasi matematis yang sesuai.
LKS akan dibuat sedemikian, sehingga dapat digunakan sebagai alat evaluasi untuk mengetahui setiap peningkatan keterampilan berpikir kreatif yang akan digunakan dalam refleksi setiap siklus. Oleh karena itu, LKS berguna untuk memperoleh data mengenai keterampilan peserta didik pada saat pembelajaran berlangsung.


b.                  Instrumen pengumpulan data
1)                  Instrumen tes
            Tes yang digunakan adalah tes formatif, Tes formatif dilaksanakan pada setiap akhir siklus, untuk mengetahui peningkatan keterampilan peserta didik.
2)                  Instrument non tes
a.                   Intrument penilaian RPP
Lembar penilaian yang digunakan untuk mengukur RPP ialah lembar instrument penilaian RPP yang dibantu oleh guru kelas V selaku observer. Bukan hanya itu, untuk penilaian RPP juga dapat menggunakan APKG dan perbandingan RPP setiap siklus.
b.                  Lembar observasi langsung
Lembar observasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa hasil rekaman, lembar pengamatan aktivitas peserta didik di kelas, anecdotal notes, Rating Cheklist,  fieldnotes bertujuan untuk mengetahui aktivitas peserta didik saat proses pembelajaran dan perilaku yang muncul selama proses pembelajaran.
Lembar observasi diisi oleh observer dan peneliti pada setiap proses pembelajaran berlangsung dalam setiap siklus.
c.                   Angket / koesioner
Angket ini untuk mengetahui respon peserta didik terhadap pembelajaran matematika dengan menggunakan media jaring-jaring bangun ruang sisi lengkung. Wawancara dilaksanakan setelah semua siklus dilaksanakan (akhir siklus III).
7.                  Analisis Data
Pelaksanaan analisis data berlangsung selama proses tindakan kelas dan setelah diperoleh data, dengan analisis data ini menghasilkan pemahaman tentang tindakan yang telah dilaksanakan. Analisis data dilakukan setelah semua data dari lapangan terkumpul. Data yang telah diperoleh melalui instrumen diolah menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut:
1.                  Data Kualitatif
Data kualitatif dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi langsung dengan menggunakan catatan lapangan dalam setiap siklus yang dilakukan observer dan peneliti. Penggunaan catatan lapangan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana situasi dan suasana kelas, cara guru mengajar maupun aktivitas peserta didik dalam pembelajarannya. Berikut cara yang dapat dilakukan untuk menuliskan catatan lapangan dalam sebuah matriks dan analisisnya.

Catatan Lapangan
Refleksi dan Analisis








       Gambar 3: Tabel Analisis Catatan Lapangan (Mohammad Imam Farisi  
      
(dalam Wiriaatmadja, 2012:129)
2.                  Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa skor dari penilaian yang diperoleh peserta didik. Baik skor perolehan kelompok maupun skor perolehan individu. Data kuantitatif berasal dari tes formatif yang dilakukan pada akhir setiap siklus dan tes sub-sumatif (tes yang dilakukan setelah semua siklus). Perhitungan data kuantitatif dalam penelitian ini meliputi:
1)                  Lembar pengamatan skala sikap kreatif
Lembar pengamatan skala sikap kreatif digunakan untuk mengamati kepribadian atau sikap siswa yang berkaitan dengan berpikir kreatif.
No
Sikap
Indikator
Skor
1
Rasa ingin tahu
Mengajukan pertanyaan
1-10
Membaca buku selain buku wajib
1-10
Mengikuti pembelajaran
1-10
2
Imajinatif
Memberikan contoh konsep yang berbeda
1-10
Kritis dalam melihat penyelesaian suatu soal
1-10
3
Merasa tertantang oleh kemajemukan
Merasa tertantang oleh soal yang tidak rutin
1-10
Menyelesaikan tugas secara mandiri
1-10
4
Berani mengambil resiko
Berani mengemukakan pendapat
1-10
Optimis dengan jawaban sendiri
1-10
5
Menghargai
Mempertimbangkan setiap masukan untuk menyempurnakan penyelesaian soal
1-10










Siswa yang mempunyai sikap kreatif yang baik, jika skor sikap kreatif yang diperoleh ≥ KKM sekolah tersebut.
2)                  Lembar pengukuran produk kreatif
Lembar pengukuran produk kreatif digunakan untuk mengetahui kualitas produk yang terdiri dari empat kategori yaitu kelancaran, keluwesan, kebaruan dan keterincian.

No
Kategori
Kriteria
Skor
1
Kelancaran
menyelesaikan masalah dan  memberikan banyak jawaban terhadap masalah tersebut
1-10


memberikan banyak contoh atau pernyataan terkait konsep atau situasi matematis tertentu
1-10
2
Keluwesan
menggunakan beragam strategi penyelesaian masalah
1-10


memberikan beragam contoh atau pernyataan terkait konsep atau situasi matematis tertentu
1-10
3
Kebaruan
menggunakan strategi yang bersifat baru, unik, atau tidak biasa untuk menyelesaikan masalah
1-10


memberikan contoh atau pernyataan yang bersifat baru, unik, atau tidak biasa
1-10
4
Keterincian
menjelaskan secara terperinci, runtut, dan koheren terhadap prosedur matematis
1-10
       Balka dan Torrance (Silver, 1997).
            Produk kreatif siswa dinilai berdasarkan kelompok, dan kelompok yang mempunyai produk kreatif siswa yang baik, jika skor produk kreatif yang diperoleh ≥ KKM sekolah tersebut.
1)                  Menghitung nilai rata-rata kelas dengan rumus:
X =
Keterangan:
∑N      = total nilai yang diperoleh siswa
X         = nilai rata-rata kelas
  n          = jumlah siswa


2)                  Analisis Aktivitas Peserta Didik
            Untuk menganalisis data aktivitas peserta didik dalam pembelajaran diambil dari nilai rata-rata skor penilaian aspek dikonversikan sebagai berikut:
Keterangan :
RSP     = Rata – rata skor penilaian 
𝑛           = banyaknya aspek penilaian 
 𝑥          = skor penilaian
3)                  Analisis hasil koesioner /angket
            Mengelompokkan peserta didik berdasarkan jawaban dan menghitung persentase peserta didik yang menjawab untuk setiap pertanyaan angket dengan menggunakan rumus berikut:
P =
Keterangan:
f           = frekuensi jawaban
n          = banyak peserta didik
100%   = bilangan tetap
P          = persentase jawaban




M.               JADWAL PENELITIAN

Kegiatan

Bulan I
Maret
Bulan II
April
Bulan III
Mei
Bulan IV
Juni

1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Awal
Pembuatan proposal
Revisi
Seminar proposal (kalau ada)
































Perencanaan/persiapan penelitian




Pembuatan intrumen










Pelaksanaan penelitian







Siklus I,II ,dan III
Refleksi dilakukan setiap siklus
T
E
S





Analisis data, Pelaporan
Dan revisi
















N.                DAFTAR PUSTAKA

Anthony,  G.  (1996)  Classroom  Instructional  Factors  Affecting  Mathematics Stidents’  Strategics  Learning  Behaviours.  Dalam    Philip  C.  Clarkson  (editor) Technology  in Mathematics Education. Australia: Mathematics Educatiuon Research Group of Australia.

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. (2002) Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Herry, Hernawan Asep, dkk. (2007) Belajar dan Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press.

Natalia, M. M.. (2008) Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Tinta Emas.

Sagala, Syaiful. (2008) Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Susanto, Ahmad. (2013) Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Susilana, Rudi dan Cepi Riyana. (2008) Media Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurtekpen FIP UPI.

Wiriaatmadja, R. (2008) Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Najwa, Herlina Amber. (2010) Pembelajaran matematika open-ended untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik SD. Skripsi UPI Bandung: tidak diterbitkan. Bandung.

 Gatot, Fransiskus Iman Santoso. (2012) Ketrampilan Berpikir Kreatif Matematis dalam Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Skripsi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun: tidak diterbitkan. Madiun.

Firmansyah, Rebi (2013) Media dalam Pembelajaran Matematika.  [Online]. Tersedia: http://www.slideshare.net/rebifirmansyah/alat-peraga-secang [27 November 2013].

Hakim, Abdul (2013) Berpikir Kreatif dengan Tekhnik Bedah.  [Online]. Tersedia: http://mathakim.blogspot.sg/2013/11/berpikir-kreatif-dengan-tehnik-bedah.html [27 November 2013].

Hendra. (2013)  Penggunaan Media dalam Matematika Modern di Tingkat SD. [Online]. Tersedia: http://hendrakere.blogspot.sg/2013/06/penggunaan-alat-peraga-dalam-matematika.html  [26 November 2013].


Irmayani. (2008) Media Pembelajaran Pengenalan Bangun Ruang untuk Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia: informatika.undiksha.ac.id/karya_akademik/?modul=ta&catid=15&id=535&read=yes&page=Media+Pembelajaran+Pengenalan+Bangun+Ruang+Untuk+Sekolah+Dasar.html [27 November 2013].

Karim, Asrul. (2013) Matematika Kreatif. [Online]. Tersedia: http://asrulkarimpgsd.blogspot.sg/2013/09/pembelajaran-matematika-di-sekolah.html  [26 November 201].

Rasmitadila, Mita (2011) Perkembangan Matematika Anak Sekolah Dasar. [Online]. Tersedia: http://www.slideshare.net/rasmitadila/perkembangan-matematika-anak-sekolah-dasar [27 November 2013].

Suryani, Devi (2011) Media Pembelajaran Matematika.  [Online]. Tersedia: http://www.slideshare.net/devisuryani/media-pembelajaran-matematika
               [27 November 2013].

Widiyanto, Rendrik. (2012). Pentingnya Kecerdasan Spasial dalam Pembelajaran Geometri. [Online]. Tersedia: http://rendikwidiyanto.wordpress.com/2012/11/07/pentingnya-kecerdasan-spasial-dalam-pembelajaran-geometri  [28 November 2013].


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS