Nama : ASEP AMIR ARIFIN
NIM :
Bidang Studi/ Kelas : PGSD/004
LK
3.1 Menyusun Best Practices Menggunakan
Metode STAR
Perangkat 1
Peningkatan Hasil Belajar Materi Gangguan Sistem Pernapasan dan Membuat pertanyaan
dengan menggunakan metode Project Based Learning
|
Lokasi |
Penelitian
ini dilaksanakan di SDN MENTENG ATAS 05 yang dilakukan di Kelas VA yang
beralamat di Jl. Muria No.43 Kel. Menteng Atas Kec. Setia Budi – Kota
Administrasi Jakarta Selatan. |
|
Lingkup Pendidikan |
Sekolah Dasar |
|
Tujuan yang ingin dicapai |
Tujuan
yang hendak dicapai dalam kegiatan ini yaitu meningkatkan hasil belajar peserta
didik terhadap membuat pertanyaan sesua teks bacaan dan menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan
dan manusia, serta
cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia sebesar 78% dari jumlah
keseluruhan peserta didik di kelas VA yaitu sebanyak 27 peserta didik. |
|
Penulis |
ASEP AMIR ARIFIN |
|
Tanggal |
26 AGUSTUS 2022 dan 1
September 2022 |
|
Situasi: Kondisi yang menjadi latar
belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang
menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini. |
Latar
belakang masalah berawal dari transisi dari Pembelajaran secara daring ke luring. Meskipun di Jakarta khususnya, sudah berjalan sejak semester
genap semester sebelumnya, tetapi hanya dua bulan saja dan itu pun masih PTMT
yang artinya kegiatan belajar efektif masih belum berjalan seperti seharusnya.
Hal ini memberikan dampak yang besar terhadap motivasi belajar peserta didik
yang rendah dalam belajar. Motivasi belajar yang dimaksud seperti: a.
Sulit
konsentrasi dalam belajar karena yang dipikirkannya hanya jam istirahat dan
jam pulang. Ini
terlihat saat lonceng berbunyi meskipun guru sedang menjelaskan peserta didik
langsung teriak kesenangan. b.
Sering
berkomunikasi lewat tulisan ketika tatapan guru sedang ke sisi lain. Ini membuat
peserta didik kurang fokus saat mendengarkan penjelasan guru. c.
Di
kelas saya setidaknya ada 10 peserta didik yang dianggap slow learner 5 diantaranya
bersurat dan 5 lainnya tidak hafal perkalian 5. Kelima peserta didik yang
tidak bersurat ini selama 1 bulan
terakhir di kelas 5 memperoleh nilai-nilai di semua muatan pelajaran
dengan perolehan nilai yang rendah. d.
Bermalas-malasan
dalam menulis informasi di papan tulis apalagi mengerjakan soal. e.
29
% dari keseluruhan peserta didik nilai belajar yang kurang dari KKM hampir di
semua pelajaran. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Purwanto
et al., (2020) menyatakan bahwa salah satu dampak yang jelas terlihat adalah
kesulitan belajar yang dialami murid selama proses belajar mengajar di rumah.
Murid merasa tertekan saat belajar jarak jauh, karena merasa terpaksa,
apalagi ditambah dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai di rumah.
Wardani, Anita, & Ayriza (2020) juga menguraikan permasalahan dalam
pembelajaran jarak jauh juga dialami oleh orangtua, kendala tersebut muncul
karena orangtua kurang memahami materi, sulitnya menumbuhkan semangat dan
motivasi belajar anak, sulitnya membagi waktu antara pekerjaan orangtua dan
pendampingan anak, keterbatasan orangtua dalam mengoperasikan gawai,
jangkauan internet yang terbatas, serta orangtua kurang sabar dalam
mendampingi anak saat pembelajaran daring selama masa pandemi covid-19. Hal ini sejalan dengan pernyataan Agus Darmuki, (2022) menyatakan bahwa
dampak
munculnya penyakit menular ini membawa pengaruh di semua sektor kehidupan
manusia. Bukan hanya dari sektor ekonomi, kesehatan bahkan di bidang
pendidikan. Praktik
ini penting dilakukan dan menuntut guru untuk responsif dalam menyelesaikan
masalah yang terjadi sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik.
Tentunya bukan hanya fokus saat dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga saat
di luar kelas secara bertahap dan berkelanjutan. Dengan usaha dan upaya yang
dilakukan guru, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab
peserta didik untuk menunjang dan meningkatkan proses dan hasil belajarnya. Guru
sebagai teman sekaligus orang tua terdekat di kelas sangat memiliki peran
yang strategis terhadap perkembangan mental peserta didik di sekolah. Guru
sebagai motivator, fasilitator, dan inspirator akan membuat peserta didik nyaman
dengan guru dan akan lebih mudah menerima materi yang dipelajarinya. Dikutip dalam jurnal pedagogik menurut Baharudin
(2017), menyatakan bahwa dalam
sistem dan proses pendidikan manapun, guru tetap memegang peranan penting,
para siswa tidak mungkin belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang mampu
mengemban tugasnya dengan baik. Peranan guru yang begitu besar dapat ditinjau
dalam arti luas dan dalam arti sempit. Saat
melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada pertemuan pertama yang
dilakukan pada Jumat, 26 Agustus 2022 di kelas 5 terdapat hal yang diluar
perkiraan. Hal ini berawal dari kesalahpahaman yang terjadi antar guru.
Informasi pertama yang didapat bahwa masih ada infocus yang belum di pasang di ruang kelas. Hal ini membuat
penulis yakin bahwa sett-up yang
sudah disiapkan akan berjalan baik. Akan tetapi, besok pagi penulis mendapat
informasi bahwa sudah tidak ada infocus
yang bisa dibawa karena semua infocus
sudah dipasang di ruang kelas lantai 1 dan lantai 2. Akhirnya penulis
langsung meminta ijin dengan salah satu guru dan ada yang bersedia. Akan
tetapi, kelas yang ditempati sangat tidak kondusif. Kondisi inilah yang
menurut penulis yang mempengaruhi hasil dari aksi pertama. Kondisi yang
dimaksud seperti: a.
Kelas
tidak rapi. b.
Kelas
terlalu terang (tidak ada gorden). c.
Kelas
terlalu dekat dengan lapangan sekolah yang sedang melaksanakan kegiatan
keagamaan. d.
Suara
video pada PPT kalah dengan suara di lapangan. e.
Tulisan
PPT tidak begitu jelas karena cahaya matahari yang begitu terang. f.
Konsentrasi
peserta didik terpecah (ada beberapa peserta didik yang ikut bershalawat)
mengikuti suara di lapangan. Kondisi
kelas sangat berpengaruh terhadap kenyamanan peserta didik dalam melakukan
pembelajaran. Kelas yang menarik berpotensi besar untuk menunjang
keberhasilan proses dan hasil pembelajaran. Hal terkait dengan masalah di
atas dibahas juga pada suatu jurnal yang menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan
secara langsung dengan peserta didik dan mendukung kelancaran serta
keberhasilan proses belajar peserta didik yang meliputi media pembelajaran,
alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain-lain. (Wina Sanjaya 2009).
Fasilitas belajar adalah semua yang diperlukan dalam proses belajar mengajar
baik bergerak maupun tidak bergerak agar tujuan pendidikan dapat berjalan
lancar, teratur, efektif, dan efisien. (Muhroji dkk, 2004). Fasilitas belajar
merupakan sarana dan prasarana pembelajaran. Prasarana meliputi gedung
sekolah, ruang belajar, lapangan olahraga, ruang ibadah, ruang kesenian dan
peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku
bacaan, alat dan fasilitas laboraturium sekolah dan berbagai media
pembelajaran yang lain. (Dimyati dan Mudjiono, 2009). Prasarana dan Sarana
merupakan faktor yang turut memberikan perngaruh terhadap hasil belajar
siswa. (Aunurrahman, 2012) Pada
pertemuan kedua hal-hal yang menjadi kekurangan dalam persiapan management
kelas dapat terselesaikan dengan baik berkat masukan, diskusi, dan saran yang
diberikan oleh observator ketika membantu pelaksanaan kegiatan PPL pertemuan
pertama di kelas. |
|
Tantangan : Apa saja yang menjadi
tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat, |
Terkait
tantangan terhadap masalah nilai dan motivasi belajar peserta didik, penulis
telah melakukan identifikasi masalah dan refleksi diri serta melakukan
wawancara guru, waka kepeserta didikan, dan kepala sekolah. Hasil yang
diperoleh atau tantangan yang ditemukan seperti: a.
Orang
tua kalah dengan anaknya. Maksudnya disini setiap kemauan anak harus orang
sediakan. b.
Orang
tua sibuk bekerja dan anak diasuh oleh neneknya. c.
Masih
ada orang tua yang abai terhadap informasi yang disampaikan guru di WAG
kelas. d.
Peserta
didik kurang diberikan pemahaman terhadap tanggungjawab di rumah. e.
Beberapa
peserta didik kurang mendapatkan bimbingan belajar saat di rumah. Menurut Prabhawani (2016) menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan
merupakan tanggung jawab orang tua dan masyarakat sekitar, tidak hanya
tanggung jawab lembaga pendidikan saja. Orang tua adalah bagian dari keluarga
yang lebih besar, digantikan oleh keluarga inti orang tua dan anak-anak.
Orang tua memainkan peran penting, mereka sangat berpengaruh dalam pendidikan
anak-anak mereka, dan mereka bertanggung jawab atas pendidikan, perawatan dan
bimbingan anak-anak mereka untuk mencapai tahap-tahap tertentu yang
mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial. Di samping itu lingkungan
keluarga yang ayem tentram dan sebuah perhatian dari orang tua terhadap anak
akan memiliki pengaruh besar pada semangat dan antusias anak dalam aktivitas
belajarnya sehingga tidak akan melewatkan pembelajarannya [3] (Hero dan Sni,
2018). Sedangkan
tantangan yang terjadi di lingkungan sekolah seperti: a.
Guru
merasa kesulitan karena terlalu banyak anak yang mendapatkan prioritas dalam
bimbingan belajar. b.
Guru
jarang menggunakan pendekatan TPACK pada kegiatan belajar di kelas. c.
Guru
harus sering mengadakan kegiatan seru seperti game dalam penyelesaian tugas-tugas belajar. d.
Peserta
didik tidak begitu antusias jika ada video pembelajaran yang ditampilkan.
Mereka lebih antusias jika yang disajikan media realita. Terkait
dengan pelaksanaan PPL yang sudah dilakukan tantangan yang ditemukan cukup
banyak, seperti: a.
Guru
belum mampu mengakomodasi keseluruhan kelas. b.
Guru
belum maksimal dalam pemanfaatan media pembelajaran. c.
Peserta
didik masih belum mampu memahami teks bacaan soal. d.
Kemampuan
daya menyimak peserta didik yang rendah. e.
Kecepatan
menulis peserta didik yang belum begitu cepat. f.
Ada
6 peserta didik yang harus mendapatkan bimbingan belajar secara ekstra tetapi
akan banyak waktu yang dibutuhkan dan akan mempengaruhi jalannya kegiatan
pembelajaran. g.
Hasil
evaluasi yang dikerjakan 6 peserta didik yang dimaksud ketika tidak mendapat
bimbingan ekstra akan dijawab asal. Meskipun sudah diberikan bimbingan dan
dibantu dengan bahasa yang lebih sederhana tidak semua soal dijawab dengan
benar karena lupa materi yang telah diberikan. Hal ini sejalan dengan pernyataan
bahwa pengelolaan kelas bertujuan sebagai penyedia fasilitas di
sekolah khususnya kelas untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah (Husna,
N : 2020). Tujuan dari pengelolaan kelas sendiri menurut Doyle (2011) adalah
untuk mendorong dan membangun kontrol diri peserta didik melalui proses
mempromosikan prestasi dan perilaku peserta didik yang positif untuk
menciptakan prestasi akademik, guru dan perilaku peserta didik secara
langsung terkait dengan konsep sekolah dan manajemen kelas. Tujuan utama dari
pengelolaan kelas adalah peningkatan hasil akademik peserta didik (Omomia and
Omomia, 2014). Keterlibatan
berbagai pihak dirasa sangat penting dilakukan karena dengan support system yang baik dalam
lingkungan belajar akan berdampak positif terhadap prestasi peserta didik. Dalam
meningkatkan nilai dan motivasi belajar peserta didik pihak yang wajib
terlibat yaitu guru, waka kesiswaan, kepala sekolah, komite sekolah, dan
orang tua murid itu sendiri. Dengan terbentuknya sistem yang solid diharapkan
presentase hasil dan motivasi belajar peserta didik dapat meningkat secara
bertahap. Prestasi
belajar yang diharapkan akan dapat terwujud melalui beberapa tahapan proses yang telah
dilalui oleh seseorang, yang mana hasil tersebut mendapatkan nilai dan
penghargaan yang tinggi dari orang lain (banyak orang) dan dapat memberikan
motivasi bagi orang lain, serta dalam belajar harus ada partisipasi dari tiga
pihak yaitu kesungguhan seorang guru dalam memberikan pembelajaran,
kesungguhan anak itu sendiri dalam belajar yang semangat, dan kesungguhan
orang tua dalam memotivasi, mendukung, dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan
anaknya agar lancarnya sebuah pembelajaran |
|
Aksi : Langkah-langkah apa yang
dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/
bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau
materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini |
Tantangan
yang sudah dijabarkan di atas harus segera ditindak lanjuti secara efektif
dan efisien oleh seorang guru profesional. Hal yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut: a.
Masalah
pengelolaan kelas Guru
harus membuat suatu kegiatan yang tidak membuat peserta didik lenggang waktu
setelah dalam penyelesaian tugas. Maksudnya setiap satu soal peserta didik
mengerjakan secara bersamaan dengan waktu tertentu. Dengan seperti ini waktu
pengerjaan tugas lebih efektif dan efisien dan tidak membuang waktu bagi peserta
didik yang lebih awal dalam menyelesaikannya. Selain itu juga, guru akan
lebih mudah mengakomodasi kelas secara keseluruhan karena kegiatan yang
dilakukan peserta didik sangat mudah terpantau oleh guru. Hal
ini disampaikan bahwa kegiatan guru dalam mengelola kelas
meliputi kegiatan pengaturan siswa, pengaturan tempat belajar, pemilihan
bentuk kegiatan, pemilihan media pembelajaran, penilaian. Sebagai indikator
keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan dengan melakukan
pengelolaan kelas dapat dilihat pada proses belajar mengajar berlangsung
secara efektif. Rusman (2010:271) b.
Masalah
pemanfaatan media pembelajaran Guru
sudah menyajikan media konkrit yang dipadukan dengan pendekatan berbasis
TPACK. Dengan demikian, peserta didik akan lebih konsentrasi dalam belajar
dan berdampak positif juga terhadap hasil belajarnya. Seperti
yang disampaikan bahwa pemakaian
media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat
dan keinginan yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap pembelajar. Penggunaan media
pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan
proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu
(Wiratmojo,P dan Sasonohardjo, 2002). c.
Berkaitan
dengan model pembelajaran. Guru
sudah melaksanakan model pembelajaran (PJBL) sesuai dengan fase dan sintak
secara runtut dan sistematis yang dimulai tahap kegiatan pembuka, kegiatan
inti, hingga kegiatan penutup. Keruntutan kegiatan yang dilakukan akan
diharapkan membuat peserta didik lebih memahami materi secara mendalam dan
bermakna. Suparno
(2007:126) menjelaskan bahwasanya PjBL merupakan pembelajaran yang
mengarahkan peserta didik untuk bekerja didalam kelompok dalam rangka membuat
atau melakukan sebuah proyek bersama, dan mempresentasikan hasil dari
proyeknya tadi dihadapan siswa yang lainnya. kesempatan kepada siswa untuk
melakukan kerja proyek, yang artinya siswa diberi tugas untuk membuat sebuah
proyek sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari. Dari beberapa pendapat
ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Project Based
Learning(PjBL) merupakan pembelajaran yang inovatif yang berpusat kepada
siswa (Student Centered) dan
menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana dalam hal ini
siswa diberi peluang untuk bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya.
Model pembelajaran berbasis proyek (Project
Based Learning) siswa merancang sebuah masalah dan mencari
penyelesaiannya sendiri, sehingga mampu meningkatkan kreatifitas siswa untuk
memunculkan penyelesaiannya sendiri membuat kegiatan pembelajaran lebih
bermakna sehingga teringat Model pembelajaran PjBL merupakan model
pembelajaran yang menggunakan proyek (kegiatan) sebagai inti pembelajaran.
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan siswa akan mendapat pengalaman secara
langsung yang nantinya dapat meningkatkan kreatifitas serta hasil belajar
anak. Model pembelajaran PjBL ini dapat membantu siswa untuk menemukan
konsep-konsep baru, pengalaman baru, serta dalam meningkatkan hasil belajar
dan kreatifitas siswa baik dalam memecahkan masalah maupun dalam membuat
sebuah produk. d.
Penilaian
terhadap proses dan hasil belajar peserta didik Guru
telah menilai secara keseluruhan terhadap kegiatan yang dilakukan peserta
didik baik dari ranah afektif, ranah kognitif, dan ranah psikomotor. Gurupun
menilai berdasarkan rubrik penilaian yang sudah ada. Seperti
yang dijelaskan oleh Putri (2018) pada jurnalnya menjelaskan bahwa Penilaian pembelajaran
berbasis proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan
dan keterampilan yang diperoleh siswa selama pembelajaran. Penilaian proyek
merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan
dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak
dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan
penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman,
kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan
menginformasikan siswa pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Setiap
model pembelajaran yang ada pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam
model pembelajaran PjBL ini dirancang agar siswa mampu menyelesaikan
permasalahan dengan suatu aktivitas proyek, dan dalam kerja proyek ini siswa
akan mendapat pengalaman nyata tentang perencanaan suatu proyek. Namun
memerlukan waktu yang panjang dan benar perencanaan yang matang adalah salah
satu kekurangan pada model PjBL. e.
Pemahaman
terhadap teks bacaan Guru
harus sering membiasakan mengadakan kegiatan literasi bersama dan menentukan
isi bacaan yang terdapat pada teks bacaan. Selain itu juga, peserta didik
selalu dibiasakan dalam membaca utuh teks bacaan atau informasi agar tidak
terjadi kesalahpahaman terhadap perintah soal atau intruksi lainnya. Hal ini
disampaikan bahwa membaca
merupakan proses pencarian informasi menggunakan akal fikiran yang nantinya
akan diolah menjadi ilmu pengetahuan sehingga dapat berguna dikehidupan
sekarang dan akan datang (Muhsyanur,
2019). Selain itu juga ada yang menyatakan bahwa kemampuan literasi merupakan kemampuan yang harus dikuasai
oleh siswa sebagai modal untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan yang senantiasa
berkembang di abad 21. (Al-bidayah, n.d.) f.
Kecepatan
dalam menulis Dengan
kegiatan seperti pada point a di atas, peserta didik akan terbiasa dalam
menulis cepat dan rapi serta utuh dalam menuliskan informasi yang
diterimanya. Hal
tersebut sejalan dengan Maria (2017) dan Yanti et al.(2018) keterampilan
menulis membentuk huruf, kata, atau kalimat pada bidang datar seperti kertas,
kain dan lainnya menggunakan alat tulis. Keterampilan menulis merupakan
keterampilan kompleks sehingga membutuhkan latihan yang sungguh-sungguh
sehingga kemampuan tersebut dapat dimiliki. Belajar menulis yang baik
memerlukan suatu metode. Salah satu metode yang dipakai adalah latihan terus
menerus. Melalui latihan yang berkelanjutan secara efektif mengacu pada
pengetahuan tentang teknik dan prinsip penulisan yang bagus. Kualitas dari
suatu teks tulisan dipengaruhi oleh waktu yang dipakai untuk menulis teks/
tulisan tersebut (Yanti et al., 2018). Proses
yang dilakukan tentu saja dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Peserta didik akan senang dan bersemangat jika guru dalam semua kegiatan di kelas
diberlakukan sistem “berkopetisi”. Tidak untuk menentukan siapa yang akan
mendapatkan hadiah baik secara ucapan maupun materi. Tetapi atas rasa senang
dan seru. Dengan strategi belajar seperti ini akan membantu guru untuk
memberdayakan peserta didik lebih aktif dan menyenangkan dalam belajar. Setiap
bulan sekali guru menanyakan kepada orang tua murid progres putra-putrinya di
rumah. Selama ini laporan yang guru terima semuanya positif. Jika ada catatan
minor oleh salah satu peserta didik, biasanya orang tua akan memberitahukan
secara pribadi hal apa saja yang ingin dirubah atas kebiasaan yang kurang
baik sehingga guru mencoba memberikan pendekatan personal kepada mereka. Disini
tentu saja keterlibatan orang tua dalam menjalin komunikasi dengan guru
dirasa penting. Sumber
daya yang dimanfaatkan pada langkah aksi ialah media elektronik berbasis
internet dan media cetak seperti buku pelajaran dan modul. |
|
Refleksi Hasil dan dampak Bagaimana dampak dari aksi
dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak
efektif? Mengapa? Bagaimana respon
orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor
keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa
pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut |
Dampak
dari penggunaan model pembelajaran Project
Based Learning (PJBL) yang sudah direalisasikan pada Jumat, 26 Agustus
2022 yaitu 17 peserta didik lebih bersemangat dalam belajar dari biasanya
sedangkan 9 peserta didik yang lain menunjukkan keantusiasan dalam belajar
sama seperti biasanya (satu peserta didik tidak hadir). 9 peserta didik yang
dimaksud di atas adalah peserta didik yang penulis maksud pada aspek situasi
dan 1 peserta didik yang saat itu tidak hadir merupakan peserta didik ke – 10
yang membutuhkan bimbingan belajar secara ekstra. Berdasarkan
hasil belajar yang diperoleh pada aksi pertama hanya 4 peserta didik yang di
bawah KKM. 4 peserta didik ini yang tergolong perlu bimbingan khusus. Tetapi,
pada pertemuan kedua di Kamis, 1 September 2022 semua siswa mengalami
peningkatan keantusiasan dalam berkolaborasi dengan temannya dalam
mengerjakan tugas. Berdasarkan
pertanyaan yang penulis ajukan kepada teman sejawat sebagai observer yang
berada di kelas saat PPL pada Jumat, 26 Agustus 2022 keberlangsungan pelaksanaan
kegiatan pembelajaran ada beberapa catatan yang didapat, yaitu: a.
Kondisi
kelas tidak kondusif dengan suara kegiatan di luar kelas. Meskipun guru telah
mengeluarkan suara dengan lantang dan jelas tetapi peserta didik tetap
terganggu dengan kondisi seperti itu. b.
Guru
belum dapat mengkondisikan peserta didik yang sedang melamun di sepanjang kegiatan.
Meskipun guru beberapa kali menegur 2 peserta didik yang terlihat tidak
antusias dalam belajar dan juga guru sudah berkeliling dari satu kelompok ke
kelompok lainnya untuk menanyakan adakah kesulitan yang dihadapi peserta
didik. c.
Tampilan
power point tidak terlihat karena
faktor cahaya matahari. d.
Suara
video sangat kecil. Guru mengantisipasinya dengan cara menjelaskan saat video
penayangan berlangsung. e.
Jika
dilihat dari cara guru menegaskan materi yang ditayangkan dengan cara
melakukan tanya-jawab dengan peserta didik, seharusnya peserta didik tidak
merasa kesulitan dalam mengerjakannya dengan soal evaluasi yang dibagikan. Sedangkan
pada pelaksanaan PPL di Kamis, 1 September 2022 keberlangsungan
pelaksanaan kegiatan pembelajaran ada beberapa catatan yang didapat, yaitu: a.
Masih
ada sebagian kecil peserta didik yang belum mampu memahami bahasa soal. b.
Keantusiasan
peserta didik dalam belajar jauh lebih meningkat dari pertemuan sebelumnya. c.
Ketertiban
peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran lebih meningkat dari
sebelumnya. d.
Hasil
belajar baik dari nilai LKPD, tugas evaluasi hingga pembuatan poster sangat
memuaskan. Dari
27 peserta didik yang nilainya di bawah 75 hanya ada 5 peserta didik atau
sebesar 18% yang artinya penggunaan model PjBL dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik
terhadap kompetensi dasar mengklasifikasi informasi yang didapat dari buku
ke dalam aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana dan kompetensi dasar menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia
telah berhasil karena terjadi peningkatan dalam proses dan hasil belajar
peserta didik. Faktor yang
melatarbelakangi keberhasilan dari PPL yang dilaksanakan adalah sebagai
berikut: a.
Adanya
pendekatan personal yang dilakukan terhadap beberapa peserta didik yang
memiliki prestasi rendah. b.
Adanya
bimbingan belajar yang dilakukan secara intens terhadap siswa yang mengalami
kesulitan belajar. c.
Kondusifnya
kelas saat melaksanakan pembelajaran. d.
Media
yang disiapkan lebih baik dari sebelumnya. Kesimpulan: a. Pengelolaan
kelas merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan peserta didik
mencapai tujuan pembelajaran. Pengelolaan dan penataan kelas yang baik akan
membawa kepada hasil belajar peserta didik yang tinggi. Hasil belajar yang
diperoleh sebanding dengan pengelolaan kelas yang dilakukan. b. Kerjasama, komunikasi, dan koordinasi yang terjalin antara guru,
siswa, dan orangtua menjadi hal yang wajib dilakukan demi menjaga kestabilan
motivasi belajar anak dalam belajar. c.
Lebih variatif lagi
dalam menggunakan model pembelajaran. Terlihat jelas dengan menggunakan model
PjBL peserta didik lebih antusias dalam belajar sekaligus dapat meningkatkan
hasil belajar peserta didik. |
DAFTAR
PUSTAKA
Abdi, A. (2018).
Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) Untuk Meningkatkan
Kreativitas Dan Hasil Belajar Ipa Pada Siswa Kelas 5 Sd. Kalam Cendekia, Volume
6, Nomor 4.1, Hlm. 9 – 15, 6, 9–15.
Astari, M.,
& Ramadan, Z. H. (2022). Persepsi Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring di
Masa Pandemi
Covid-19 di Sekolah Dasar. Jurnal
Basicedu.
Ahmad Rohani.
2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta
Ahmad, Sobri.
2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Ciputat Press
Dalman. (2014).
Keterampilan Membaca. PT Raja Grafindo Persada.
Hero dan Sni.
(2018). Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas V di
Sekolah Dasar Inpres Iligetang. Jurnal Riset Pendidikan Dasar, 131.
Juliana, A.
(2010). Peningkatan Motivasi Belajar Murid Dalam Menuliskan Huruf Tegak
Bersambung Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Penerapan Metode Struktural
Analitik Sntetik (SAS) Di Kelas II SD Negeri 005 Muara Jalai Kecamatan Kampar
Utara Kabupaten Kampar. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Kurnianto dan
Rahmawati. (2020). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa
Pada Pembelajaran Daring Masa Pandemi. Seminar Pendidikan Nasional (SENDIKA),
4.
Muhammad, M. S.
dan A. (2020). Peran Guru, Orang Tua, Metode dan Media Pembelajaran: Strategi
KBM di Masa Pandemi Covid-19. Penerbit 3M Media Karya.
Umar, M. 2015.
Peranan Orang Tua dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak. Jurnal Ilmiah
Edukasi vol 1 (1)
Warsono, S.
(2016). Pengelolaan kelas dalam meningkatkan belajar siswa. Manajer Pendidikan,
10(5).







0 komentar:
Posting Komentar