Popular Posts

Label

Pengikut

Blogger templates

animasi

RSS

Pages

 

Nama                           : ASEP AMIR ARIFIN

NIM                               :

Bidang Studi/ Kelas  : PGSD/004

 

LK 3.1 Menyusun Best Practices Menggunakan Metode STAR

Perangkat 2

 

Peningkatan Hasil Belajar Materi Gangguan Sistem Pernapasan dan Membuat pertanyaan dengan menggunakan metode Project Based Learning

 

Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di SDN MENTENG ATAS 05 yang dilakukan di Kelas VA yang beralamat di Jl. Muria No.43 Kel. Menteng Atas Kec. Setia Budi – Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Lingkup Pendidikan

Sekolah Dasar

Tujuan yang ingin dicapai

Tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan ini yaitu meningkatkan hasil belajar peserta didik terhadap membuat pertanyaan sesua teks bacaan dan menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia sebesar 86% dari jumlah keseluruhan peserta didik di kelas VA yaitu sebanyak 27 peserta didik.

Penulis

ASEP AMIR ARIFIN

Tanggal

5 September 2022 dan 8 September 2022

Situasi:

Kondisi yang menjadi latar belakang masalah, mengapa praktik ini penting untuk dibagikan, apa yang menjadi peran dan tanggung jawab anda dalam praktik ini.

 

Latar belakang masalah tidak jauh berbeda dengan sebelumnya yaitu motivasi belajar yang berdampak terhadap porses dan hasil belajar peserta didik. Meskipun sudah diberikan perlakuan khusus terhadap peserta didik yang mengalami rendahnya prestasi di kelas, akan tetapi semangat dan motivasi yang diperlihatkan tidak kunjung terlihat nyata. Motivasi belajar yang dimaksud seperti:

a.    Sulit konsentrasi dalam belajar karena yang dipikirkannya hanya jam istirahat dan jam pulang.

Ini terlihat saat lonceng berbunyi meskipun guru sedang menjelaskan peserta didik langsung teriak kesenangan.

b.    Setidaknya ada 9 peserta didik yang dianggap slow learner  meskipun sekarang sudah secara perlahan menunjukkan progress yang baik.

c.    Bermalas-malasan dalam menulis informasi di papan tulis apalagi mengerjakan soal.

d.    18 % atau hanya 5 peserta didik dari keseluruhan peserta didik nilai belajar yang kurang dari KKM di semua pelajaran.

Hal ini disebabkan karena kurangnya bimbingan dan perhatian orang tua terhadap anak ketika berada di lingkungan rumah. Selain itu juga, faktor pergaulan memberikan dampak yang cukup besar terhadap pendidikan peserta didik. Dari hasil wawancara dengan 9 orang tua yang peserta didik dimaksud di atas beberapa hari setelah PPL dilaksanakan faktor utama penyebab masalah adalah efek Belajar Jarak Jauh ketika masa pandemi.

 

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wardani, Anita, & Ayriza (2020) juga menguraikan permasalahan dalam pembelajaran jarak jauh juga dialami oleh orangtua, kendala tersebut muncul karena orangtua kurang memahami materi, sulitnya menumbuhkan semangat dan motivasi belajar anak, sulitnya membagi waktu antara pekerjaan orangtua dan pendampingan anak, keterbatasan orangtua dalam mengoperasikan gawai, jangkauan internet yang terbatas, serta orangtua kurang sabar dalam mendampingi anak saat pembelajaran daring selama masa pandemi covid-19. Hal ini sejalan dengan pernyataan Agus Darmuki, (2022) menyatakan bahwa dampak munculnya penyakit menular ini membawa pengaruh di semua sektor kehidupan manusia. Bukan hanya dari sektor ekonomi, kesehatan bahkan di bidang pendidikan.

 

Praktik ini penting dilakukan dan menuntut guru untuk responsif dalam menyelesaikan masalah yang terjadi sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta didik serta melihat progress proses dan hasil belajar peserta didik dari pertemuan sebelumnya. Tentunya bukan hanya fokus saat dalam kegiatan pembelajaran, tetapi juga saat di luar kelas secara bertahap dan berkelanjutan. Dengan usaha dan upaya yang dilakukan guru, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab peserta didik untuk menunjang dan meningkatkan proses dan hasil belajarnya.

Guru sebagai teman sekaligus orang tua terdekat di kelas sangat memiliki peran yang strategis terhadap perkembangan mental peserta didik di sekolah. Guru sebagai motivator, fasilitator, dan inspirator akan membuat peserta didik nyaman dengan guru dan akan lebih mudah menerima materi yang dipelajarinya.

Dikutip dalam jurnal pedagogik menurut Baharudin (2017), menyatakan bahwa dalam sistem dan proses pendidikan manapun, guru tetap memegang peranan penting, para siswa tidak mungkin belajar sendiri tanpa bimbingan guru yang mampu mengemban tugasnya dengan baik. Peranan guru yang begitu besar dapat ditinjau dalam arti luas dan dalam arti sempit.

 

Saat melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada pertemuan pertama perangkat kedua yang dilakukan pada Senin, 5 September 2022 di kelas 5 dilaksanakan pada pukul 10.30. Sebelum melaksanakan PPL peserta didik baru selesai mengkuti kelas olahraga yang menyebabkan tingkat konsentrasi peserta didik sangat rendah karena faktor kelelahan. Selain itu, masalah bertambah ketika pukul 10.50 WIB yang seharusnya waktu istirahat para peserta didik masih melaksanakan pembelajaran di kelas. Meskipun sudah diinformasikan, tetap konsentrasi peserta didik terganggu terhadap hal tersebut.

 

Menurut M. Sobry Sutikno (2007:57) Pembelajaran efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan. Proses pembelajaran yang efektif adalah pengajaran yang mampu melahirkan proses belajar yang berkualitas , yaitu proses belajar yang melibatkan partisipasi dan penghayatan peserta didik secara intensif (Wiji Suwarno,2006:161).

 

Dengan kondisi dan situasi yang efektif dalam belajar akan menunjang keberhasilan peserta didik dalam partisipasi aktif dan menunjang hasil belajarnya.

Tantangan :

Apa saja yang menjadi tantangan untuk mencapai tujuan tersebut? Siapa saja yang terlibat,

 

Terkait tantangan terhadap masalah nilai dan motivasi belajar peserta didik, penulis telah melakukan identifikasi masalah dan refleksi diri serta melakukan wawancara guru, waka kepeserta didikan, dan kepala sekolah. Hasil yang diperoleh atau tantangan yang ditemukan seperti:

a.    Orang tua kalah dengan anaknya. Maksudnya disini setiap kemauan anak harus orang sediakan.

b.    Orang tua sibuk bekerja dan anak diasuh oleh neneknya.

c.    Masih ada orang tua yang abai terhadap informasi yang disampaikan guru di WAG kelas.

d.    Peserta didik kurang diberikan pemahaman terhadap tanggungjawab di rumah.

e.    Beberapa peserta didik kurang mendapatkan bimbingan belajar saat di rumah.

 

Menurut Prabhawani (2016) menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua dan masyarakat sekitar, tidak hanya tanggung jawab lembaga pendidikan saja. Orang tua adalah bagian dari keluarga yang lebih besar, digantikan oleh keluarga inti orang tua dan anak-anak. Orang tua memainkan peran penting, mereka sangat berpengaruh dalam pendidikan anak-anak mereka, dan mereka bertanggung jawab atas pendidikan, perawatan dan bimbingan anak-anak mereka untuk mencapai tahap-tahap tertentu yang mempersiapkan mereka untuk kehidupan sosial. Di samping itu lingkungan keluarga yang ayem tentram dan sebuah perhatian dari orang tua terhadap anak akan memiliki pengaruh besar pada semangat dan antusias anak dalam aktivitas belajarnya sehingga tidak akan melewatkan pembelajarannya [3] (Hero dan Sni, 2018).

 

Sedangkan tantangan yang terjadi di lingkungan sekolah seperti:

a.    Guru merasa kesulitan karena terlalu banyak anak yang mendapatkan prioritas dalam bimbingan belajar.

b.    Guru jarang menggunakan pendekatan TPACK pada kegiatan belajar di kelas.

c.    Guru harus sering mengadakan kegiatan seru seperti game dalam penyelesaian tugas-tugas belajar.

d.    Peserta didik tidak begitu antusias jika ada video pembelajaran yang ditampilkan. Mereka lebih antusias jika yang disajikan media realita.

 

Terkait dengan pelaksanaan PPL yang sudah dilakukan tantangan yang ditemukan cukup banyak, seperti:

a.    Guru belum mampu mengakomodasi keseluruhan kelas.

b.    Guru belum maksimal dalam pemanfaatan media pembelajaran.

c.    Peserta didik masih belum mampu memahami teks bacaan soal.

d.    Kemampuan daya menyimak peserta didik yang rendah.

e.    Kecepatan menulis peserta didik yang belum begitu cepat.

f.     Ada 6 peserta didik yang harus mendapatkan bimbingan belajar secara ekstra tetapi akan banyak waktu yang dibutuhkan dan akan mempengaruhi jalannya kegiatan pembelajaran.

g.    Hasil evaluasi yang dikerjakan 6 peserta didik yang dimaksud ketika tidak mendapat bimbingan ekstra akan dijawab asal. Meskipun sudah diberikan bimbingan dan dibantu dengan bahasa yang lebih sederhana tidak semua soal dijawab dengan benar karena lupa materi yang telah diberikan.

 

Hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa pengelolaan kelas bertujuan sebagai penyedia fasilitas di sekolah khususnya kelas untuk melaksanakan berbagai kegiatan sekolah (Husna, N : 2020). Tujuan dari pengelolaan kelas sendiri menurut Doyle (2011) adalah untuk mendorong dan membangun kontrol diri peserta didik melalui proses mempromosikan prestasi dan perilaku peserta didik yang positif untuk menciptakan prestasi akademik, guru dan perilaku peserta didik secara langsung terkait dengan konsep sekolah dan manajemen kelas. Tujuan utama dari pengelolaan kelas adalah peningkatan hasil akademik peserta didik (Omomia and Omomia, 2014).

 

Keterlibatan berbagai pihak dirasa sangat penting dilakukan karena dengan support system yang baik dalam lingkungan belajar akan berdampak positif terhadap prestasi peserta didik. Dalam meningkatkan nilai dan motivasi belajar peserta didik pihak yang wajib terlibat yaitu guru, waka kesiswaan, kepala sekolah, komite sekolah, dan orang tua murid itu sendiri. Dengan terbentuknya sistem yang solid diharapkan presentase hasil dan motivasi belajar peserta didik dapat meningkat secara bertahap.

 

Prestasi belajar yang diharapkan akan dapat terwujud melalui beberapa tahapan proses yang telah dilalui oleh seseorang, yang mana hasil tersebut mendapatkan nilai dan penghargaan yang tinggi dari orang lain (banyak orang) dan dapat memberikan motivasi bagi orang lain, serta dalam belajar harus ada partisipasi dari tiga pihak yaitu kesungguhan seorang guru dalam memberikan pembelajaran, kesungguhan anak itu sendiri dalam belajar yang semangat, dan kesungguhan orang tua dalam memotivasi, mendukung, dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan anaknya agar lancarnya sebuah pembelajaran

Aksi :

Langkah-langkah apa yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut/ strategi apa yang digunakan/ bagaimana prosesnya, siapa saja yang terlibat / Apa saja sumber daya atau materi yang diperlukan untuk melaksanakan strategi ini

 

Tantangan yang sudah dijabarkan di atas harus segera ditindak lanjuti secara efektif dan efisien oleh seorang guru profesional. Hal yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

a.    Masalah pengelolaan kelas

Guru harus membuat suatu kegiatan yang tidak membuat peserta didik lenggang waktu setelah dalam penyelesaian tugas. Maksudnya setiap satu soal peserta didik mengerjakan secara bersamaan dengan waktu tertentu. Dengan seperti ini waktu pengerjaan tugas lebih efektif dan efisien dan tidak membuang waktu bagi peserta didik yang lebih awal dalam menyelesaikannya. Selain itu juga, guru akan lebih mudah mengakomodasi kelas secara keseluruhan karena kegiatan yang dilakukan peserta didik sangat mudah terpantau oleh guru.

Hal ini disampaikan bahwa kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi kegiatan pengaturan siswa, pengaturan tempat belajar, pemilihan bentuk kegiatan, pemilihan media pembelajaran, penilaian. Sebagai indikator keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan dengan melakukan pengelolaan kelas dapat dilihat pada proses belajar mengajar berlangsung secara efektif. Rusman (2010:271)

 

b.    Masalah pemanfaatan media pembelajaran

Guru sudah menyajikan media konkrit yang dipadukan dengan pendekatan berbasis TPACK. Dengan demikian, peserta didik akan lebih konsentrasi dalam belajar dan berdampak positif juga terhadap hasil belajarnya.

Seperti yang disampaikan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap pembelajar. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu (Wiratmojo,P dan Sasonohardjo, 2002).

 

c.    Berkaitan dengan model pembelajaran.

Guru sudah melaksanakan model pembelajaran (PJBL) sesuai dengan fase dan sintak secara runtut dan sistematis yang dimulai tahap kegiatan pembuka, kegiatan inti, hingga kegiatan penutup. Keruntutan kegiatan yang dilakukan akan diharapkan membuat peserta didik lebih memahami materi secara mendalam dan bermakna.

Suparno (2007:126) menjelaskan bahwasanya PjBL merupakan pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk bekerja didalam kelompok dalam rangka membuat atau melakukan sebuah proyek bersama, dan mempresentasikan hasil dari proyeknya tadi dihadapan siswa yang lainnya. kesempatan kepada siswa untuk melakukan kerja proyek, yang artinya siswa diberi tugas untuk membuat sebuah proyek sesuai dengan apa yang telah mereka pelajari. Dari beberapa pendapat ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Project Based Learning(PjBL) merupakan pembelajaran yang inovatif yang berpusat kepada siswa (Student Centered) dan menempatkan guru sebagai motivator dan fasilitator, dimana dalam hal ini siswa diberi peluang untuk bekerja secara otonom mengkonstruksi belajarnya. Model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) siswa merancang sebuah masalah dan mencari penyelesaiannya sendiri, sehingga mampu meningkatkan kreatifitas siswa untuk memunculkan penyelesaiannya sendiri membuat kegiatan pembelajaran lebih bermakna sehingga teringat Model pembelajaran PjBL merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek (kegiatan) sebagai inti pembelajaran. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan siswa akan mendapat pengalaman secara langsung yang nantinya dapat meningkatkan kreatifitas serta hasil belajar anak. Model pembelajaran PjBL ini dapat membantu siswa untuk menemukan konsep-konsep baru, pengalaman baru, serta dalam meningkatkan hasil belajar dan kreatifitas siswa baik dalam memecahkan masalah maupun dalam membuat sebuah produk.

 

d.    Penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik

Guru telah menilai secara keseluruhan terhadap kegiatan yang dilakukan peserta didik baik dari ranah afektif, ranah kognitif, dan ranah psikomotor. Gurupun menilai berdasarkan rubrik penilaian yang sudah ada.

Seperti yang dijelaskan oleh Putri (2018) pada jurnalnya menjelaskan bahwa Penilaian pembelajaran berbasis proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa selama pembelajaran. Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan siswa pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Setiap model pembelajaran yang ada pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam model pembelajaran PjBL ini dirancang agar siswa mampu menyelesaikan permasalahan dengan suatu aktivitas proyek, dan dalam kerja proyek ini siswa akan mendapat pengalaman nyata tentang perencanaan suatu proyek. Namun memerlukan waktu yang panjang dan benar perencanaan yang matang adalah salah satu kekurangan pada model PjBL.

 

e.    Pemahaman terhadap teks bacaan

Guru harus sering membiasakan mengadakan kegiatan literasi bersama dan menentukan isi bacaan yang terdapat pada teks bacaan. Selain itu juga, peserta didik selalu dibiasakan dalam membaca utuh teks bacaan atau informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap perintah soal atau intruksi lainnya. Hal ini disampaikan bahwa membaca merupakan proses pencarian informasi menggunakan akal fikiran yang nantinya akan diolah menjadi ilmu pengetahuan sehingga dapat berguna dikehidupan sekarang dan akan datang (Muhsyanur, 2019). Selain itu juga ada yang menyatakan bahwa kemampuan literasi merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa sebagai modal untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan yang senantiasa berkembang di abad 21. (Al-bidayah, n.d.)

 

f.     Kecepatan dalam menulis

Dengan kegiatan seperti pada point a di atas, peserta didik akan terbiasa dalam menulis cepat dan rapi serta utuh dalam menuliskan informasi yang diterimanya.

Hal tersebut sejalan dengan Maria (2017) dan Yanti et al.(2018) keterampilan menulis membentuk huruf, kata, atau kalimat pada bidang datar seperti kertas, kain dan lainnya menggunakan alat tulis. Keterampilan menulis merupakan keterampilan kompleks sehingga membutuhkan latihan yang sungguh-sungguh sehingga kemampuan tersebut dapat dimiliki. Belajar menulis yang baik memerlukan suatu metode. Salah satu metode yang dipakai adalah latihan terus menerus. Melalui latihan yang berkelanjutan secara efektif mengacu pada pengetahuan tentang teknik dan prinsip penulisan yang bagus. Kualitas dari suatu teks tulisan dipengaruhi oleh waktu yang dipakai untuk menulis teks/ tulisan tersebut (Yanti et al., 2018).

 

Proses yang dilakukan tentu saja dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Peserta didik akan senang dan bersemangat jika guru dalam semua kegiatan di kelas diberlakukan sistem “berkopetisi”. Tidak untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan hadiah baik secara ucapan maupun materi. Tetapi atas rasa senang dan seru. Dengan strategi belajar seperti ini akan membantu guru untuk memberdayakan peserta didik lebih aktif dan menyenangkan dalam belajar.

Setiap bulan sekali guru menanyakan kepada orang tua murid progres putra-putrinya di rumah. Selama ini laporan yang guru terima semuanya positif. Jika ada catatan minor oleh salah satu peserta didik, biasanya orang tua akan memberitahukan secara pribadi hal apa saja yang ingin dirubah atas kebiasaan yang kurang baik sehingga guru mencoba memberikan pendekatan personal kepada mereka.

Disini tentu saja keterlibatan orang tua dalam menjalin komunikasi dengan guru dirasa penting.

 

Sumber daya yang dimanfaatkan pada langkah aksi ialah media elektronik berbasis internet dan media cetak seperti buku pelajaran dan modul.

Refleksi Hasil dan dampak

Bagaimana dampak dari aksi dari Langkah-langkah yang dilakukan? Apakah hasilnya efektif? Atau tidak efektif?  Mengapa? Bagaimana respon orang lain terkait dengan strategi yang dilakukan, Apa yang menjadi faktor keberhasilan atau ketidakberhasilan dari strategi yang dilakukan? Apa pembelajaran dari keseluruhan proses tersebut

 

Dampak dari penggunaan model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) yang sudah direalisasikan pada Senin,  5 September 2022 yaitu 21 peserta didik lebih bersemangat dalam belajar dari biasanya sedangkan 6 peserta didik yang lain menunjukkan keantusiasan dalam belajar sama seperti biasanya (satu peserta didik tidak hadir). 6 peserta didik yang membutuhkan bimbingan belajar secara ekstra.

Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh pada aksi pertama hanya 6 peserta didik yang di bawah KKM. 6 peserta didik ini yang tergolong perlu bimbingan khusus.

Tetapi, pada pertemuan kedua di Kamis, 8 September 2022 semua siswa mengalami peningkatan keantusiasan dalam berkolaborasi dengan temannya dalam mengerjakan tugas.

Berdasarkan pertanyaan yang penulis ajukan kepada teman sejawat sebagai observer yang berada di kelas saat PPL pada Kamis, 8 September 2022 keberlangsungan pelaksanaan kegiatan pembelajaran ada beberapa catatan yang didapat, yaitu:

a.    Beberapa peserta didik merasa kelelahan karena dari pagi sudah melaksanakan kegiatan sekolah.

b.    Ada 2 peserta didik bahkan sampai mengantuk ketika menyimak tayangan video.

c.    Guru mampu mengantisipasi masalah di atas yang telah disebutkan.

d.    Sudah banyak peserta didik yang bertanya kritis saat proses pembelajaran.

 

Sedangkan pada pelaksanaan PPL di Kamis, 8 September 2022

keberlangsungan pelaksanaan kegiatan pembelajaran ada beberapa catatan yang didapat, yaitu:

a.    Masih ada sebagian kecil peserta didik yang belum mampu memahami bahasa soal.

b.    Keantusiasan peserta didik dalam belajar jauh lebih meningkat dari pertemuan sebelumnya.

c.    Ketertiban peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran lebih meningkat dari sebelumnya.

d.    Hasil belajar baik dari nilai LKPD, tugas evaluasi hingga pembuatan poster sangat memuaskan.

Dari 27 peserta didik yang nilainya di bawah 75 hanya ada 5 peserta didik atau sebesar 18% yang artinya penggunaan model PjBL dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik terhadap kompetensi dasar  mengklasifikasi informasi yang didapat dari buku ke dalam aspek: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana dan kompetensi dasar menjelaskan organ pernapasan dan fungsinya pada hewan dan manusia, serta cara memelihara kesehatan organ pernapasan manusia telah berhasil karena terjadi peningkatan dalam proses dan hasil belajar peserta didik.

 

Faktor yang melatarbelakangi keberhasilan dari PPL yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

a.    Adanya pendekatan personal yang dilakukan terhadap beberapa peserta didik yang memiliki prestasi rendah.

b.    Adanya bimbingan belajar yang dilakukan secara intens terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar.

c.    Kondusifnya kelas saat melaksanakan pembelajaran.

d.    Media yang disiapkan lebih baik dari sebelumnya.

 

Kesimpulan:

a.   Pengelolaan kelas merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Pengelolaan dan penataan kelas yang baik akan membawa kepada hasil belajar peserta didik yang tinggi. Hasil belajar yang diperoleh sebanding dengan pengelolaan kelas yang dilakukan.

b.   Kerjasama, komunikasi, dan koordinasi yang terjalin antara guru, siswa, dan orangtua menjadi hal yang wajib dilakukan demi menjaga kestabilan motivasi belajar anak dalam belajar.

c.    Lebih variatif lagi dalam menggunakan model pembelajaran. Terlihat jelas dengan menggunakan model PjBL peserta didik lebih antusias dalam belajar sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

 


DAFTAR PUSTAKA

Abdi, A. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) Untuk Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Ipa Pada Siswa Kelas 5 Sd. Kalam Cendekia, Volume 6, Nomor 4.1, Hlm. 9 – 15, 6, 9–15.

Astari, M., & Ramadan, Z. H. (2022). Persepsi Orang Tua Terhadap Pembelajaran Daring di Masa Pandemi   
     Covid-19 di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu.

Ahmad Rohani. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Ahmad, Sobri. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Ciputat Press

Dalman. (2014). Keterampilan Membaca. PT Raja Grafindo Persada.

Hero dan Sni. (2018). Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas V di Sekolah Dasar Inpres Iligetang. Jurnal Riset Pendidikan Dasar, 131.

Juliana, A. (2010). Peningkatan Motivasi Belajar Murid Dalam Menuliskan Huruf Tegak Bersambung Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Penerapan Metode Struktural Analitik Sntetik (SAS) Di Kelas II SD Negeri 005 Muara Jalai Kecamatan Kampar Utara Kabupaten Kampar. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Kurnianto dan Rahmawati. (2020). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Daring Masa Pandemi. Seminar Pendidikan Nasional (SENDIKA), 4.

Muhammad, M. S. dan A. (2020). Peran Guru, Orang Tua, Metode dan Media Pembelajaran: Strategi KBM di Masa Pandemi Covid-19. Penerbit 3M Media Karya.

Umar, M. 2015. Peranan Orang Tua dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak. Jurnal Ilmiah Edukasi vol 1 (1)

Warsono, S. (2016). Pengelolaan kelas dalam meningkatkan belajar siswa. Manajer Pendidikan, 10(5).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS